Scroll untuk baca artikel
Blog

Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan Sahilin Diluncurkan

×

Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan Sahilin Diluncurkan

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Perjalanan hidup seorang seniman tradisi Sumatera Selatan kini diabadikan dalam sebuah buku berjudul Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan Sahilin dan Karya Musiknya. Buku ini menghadirkan potret mendalam tentang sosok Sahilin, seniman yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menjaga dan mengembangkan tradisi Tembang Batanghari Sembilan.

Peluncuran sekaligus bedah buku tersebut berlangsung di Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, Sabtu (2/4/2026). Acara ini tidak sekadar menjadi forum diskusi akademik, tetapi juga ruang pertemuan antara kenangan, karya, dan penghormatan terhadap seorang seniman yang telah berpulang pada 2023.

Buku yang ditulis oleh Feri Firmansyah, Irfan Kurniawan, M. Nasir, dan Hasan ini tidak hanya merekam perjalanan hidup Sahilin sebagai musisi tradisi. Lebih dari itu, buku ini menjadi dokumentasi penting mengenai nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Sumatera Selatan.

 

Seniman yang Menjaga Tradisi

Dalam pengantar buku disebutkan bahwa kebudayaan dalam setiap zaman selalu menemukan penjaganya. Para seniman, meski tidak selalu tampil di panggung besar, sering kali menjadi penopang utama yang menjaga tradisi tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Sahilin menjadi salah satu sosok yang memainkan peran tersebut.

Melalui suara dan petikan gitar tunggalnya, ia menghadirkan pantun, petuah, serta kisah kehidupan masyarakat dalam bentuk musik yang sederhana namun sarat makna. Tembang-tembang yang ia bawakan kerap menghadirkan cerita tentang tanah kelahiran, nasihat orang tua, harapan hidup, hingga kesedihan masyarakat.

Seperti aliran sungai yang tenang namun panjang, tembang-tembang Sahilin membawa pesan budaya dari masa lalu menuju generasi masa kini.

 

Pelestari, Inovator, Inspirator

Dalam diskusi bedah buku, Feri Firmansyah menyebut Sahilin sebagai sosok yang memiliki tiga peran penting: pelestari, inovator, dan inspirator.

“Ini bukan hanya biografi. Kami mencoba melihat Sahilin sebagai pelestari, inovator, dan inspirator,” ujarnya.

Sebagai pelestari, Sahilin menjaga tradisi tembang agar tidak hilang di tengah arus modernisasi. Namun ia tidak membeku di dalam tradisi itu. Ia juga melakukan berbagai penyesuaian agar musik Batanghari Sembilan tetap relevan bagi generasi baru.

Kreativitasnya lahir dari kesederhanaan. Dengan keterbatasan yang dimiliki, ia mampu meramu sastra lisan menjadi melodi yang memikat. Karyanya menunjukkan bahwa seni tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari kedekatan seorang seniman dengan akar budaya dan pengalaman hidup masyarakatnya.

 

Gelar Maestro dari Komunitas

Diskusi juga mengungkap kisah menarik mengenai gelar “maestro” yang kini melekat pada nama Sahilin. Gelar tersebut bukan lahir dari seremoni resmi semata, melainkan dari pengakuan komunitas budaya.

Salah satu tokoh yang pertama kali mengusulkan penyematan gelar tersebut adalah Anwar Putra Bayu dari Asosiasi Tradisi Lisan Sumatera Selatan. Pengakuan itu lahir dari pengamatan panjang terhadap dedikasi Sahilin dalam menjaga tradisi.

Bagi para pelaku budaya, perjalanan panjang Sahilin dianggap layak untuk disebut sebagai seorang maestro.

 

Musik sebagai Peristiwa

Di balik kiprahnya, Sahilin juga dikenal memiliki sikap yang cukup protektif terhadap karyanya. Dalam beberapa kesempatan, ia mengingatkan penonton agar tidak sembarangan merekam atau menyebarluaskan penampilannya.

Bagi Sahilin, musik bukan sekadar suara yang bisa direkam dan diputar ulang. Musik adalah peristiwa yang hidup dalam momen, dalam interaksi, dan dalam ruang yang tidak selalu bisa diulang.

Namun perjalanan musiknya pernah melampaui batas lokal. Pada 1994, Sahilin bersama Siti Rohmah direkam oleh etnomusikolog Amerika, Philip Yampolsky. Rekaman tersebut kemudian dimasukkan dalam album Indonesian Guitars, yang memperkenalkan musik Batanghari Sembilan ke ranah internasional.

Menariknya, penampilan terakhir Sahilin justru tidak terdokumentasi secara digital. Tidak ada video atau arsip visual yang tersisa, hanya cerita dari keluarga, sahabat, dan para penonton yang pernah menyaksikan penampilannya.

 

Menjaga Ingatan Budaya

Buku ini juga menegaskan pentingnya dokumentasi terhadap para pelaku budaya. Tanpa pencatatan yang serius, banyak kisah berharga berpotensi hilang ditelan waktu.

Melalui biografi ini, perjalanan Sahilin tidak hanya dikenang sebagai kisah pribadi seorang seniman, tetapi juga sebagai bagian penting dari perjalanan budaya Sumatera Selatan.

Menjelang akhir acara, suasana diskusi tetap terasa hangat dan terbuka. Mahasiswa, seniman, dan peneliti masih berdiskusi dalam kelompok kecil. Buku yang dibedah sore itu tidak lagi sekadar benda cetak, ia berubah menjadi pengalaman bersama.

Sahilin mungkin telah pergi, tetapi ia tidak benar-benar hilang. Ia hadir dalam petikan gitar yang pernah dimainkan, dalam pantun yang pernah dilantunkan, dalam cerita yang terus diulang, dan kini dalam halaman-halaman buku yang mengabadikan jejaknya. (*/fly)