Scroll untuk baca artikel
Sejarah

Peta Palembang 1877 Bisa Jadi Petunjuk Kurangi Risiko Banjir

×

Peta Palembang 1877 Bisa Jadi Petunjuk Kurangi Risiko Banjir

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Mungkinkah solusi untuk mengurangi banjir di Kota Palembang justru tersimpan dalam peta berusia hampir 150 tahun?

 

Pertanyaan itu mengemuka setelah sejarawan Kemas Ari Panji mengungkap keberadaan peta Kota Palembang tahun 1877 yang memperlihatkan jaringan sungai yang jauh lebih padat dibandingkan kondisi saat ini, di FGD Menghimpun Kembali Sejarah 114 Sungai di Kota Palembang tahap I, Fokus Kajian pada Bagian Ilir Timur Palembang, Kegiatan di Ruang rapat Kantor PUPR Palembang, Jumat (10/7).

Peta kolonial tersebut bukan hanya menyimpan jejak sejarah Kota Palembang sebagai kota air, tetapi juga dinilai dapat menjadi salah satu referensi penting untuk memahami perubahan sistem aliran air yang terjadi akibat perkembangan kota.

 

Dalam paparannya, Kemas Ari menjelaskan bahwa peta tersebut merekam puluhan sungai yang dahulu menghubungkan kawasan Ilir dan Seberang Ulu. Banyak di antaranya kini telah menyempit, tertutup permukiman, berubah fungsi, bahkan hilang dari bentang kota.

 

“Melalui penelusuran arsip dan peta sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana perubahan bentang sungai terjadi dari masa ke masa. Informasi ini penting sebagai dasar pelestarian sejarah sekaligus referensi dalam pengelolaan lingkungan perkotaan,” ujarnya. Jumat (10/7)

 

Menurut para ahli tata ruang dan hidrologi, terang Kemas, kota-kota yang berkembang di atas jaringan sungai alami akan mengalami perubahan pola aliran air apabila sebagian sungainya ditutup atau dialihfungsikan. Air hujan pada dasarnya tetap mencari jalur alaminya. Karena itu, mengetahui kembali lokasi sungai-sungai lama dapat membantu menjelaskan mengapa sejumlah kawasan lebih sering tergenang dibandingkan wilayah lain.

Suasana FGD di Dinas PUPR Palembang, Foto Kemas AR Panji

Dalam konteks tersebut, penyusunan Database Sejarah 114 Sungai Kota Palembang yang digagas KAWALI Sumatera Selatan jelas Kemas, memiliki arti lebih luas daripada sekadar pendokumentasian sejarah. Basis data tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi pemerintah, akademisi, dan perencana kota untuk mengkaji hubungan antara perubahan jaringan sungai dengan sistem drainase, tata ruang, dan upaya pengurangan risiko banjir.

 

Tentu, rekonstruksi sejarah sungai bukanlah solusi tunggal. Penanganan banjir tetap memerlukan kajian hidrologi, pembangunan infrastruktur, serta penataan ruang yang baik. Namun, memahami ke mana air pernah mengalir pada masa lalu dapat menjadi pijakan penting dalam merancang bagaimana air seharusnya dikelola di masa depan.

 

“Sungai telah membentuk peradaban Palembang selama berabad-abad. Melalui kajian sejarah yang berbasis arsip, peta, dan sumber-sumber ilmiah, kita berharap lahir kesadaran bersama bahwa melestarikan sungai berarti menjaga memori kolektif, identitas budaya, sekaligus masa depan Kota Palembang,” pungkas Kemas Ari. (*)