Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Hutan Tetap Hijau tapi Warga Tetap Cuan, Apa Rahasianya?

×

Hutan Tetap Hijau tapi Warga Tetap Cuan, Apa Rahasianya?

Sebarkan artikel ini

Cianjur, UpdateKini – Menjaga hutan tidak selalu berarti mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Di Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masyarakat menunjukkan bahwa kelestarian alam justru dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi melalui agroforestri, wisata, dan berbagai usaha berbasis potensi lokal.

 

Praktik tersebut menjadi bahan pembelajaran dalam Sekolah Lapang Perhutanan Sosial yang digelar Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, di Ciloto, Sabtu (15/8/2026).

 

Melansir laman resmi Kementerian Kehutanan, Sabtu (15/8/2026), kegiatan tersebut mempertemukan perwakilan kelompok Perhutanan Sosial yang menjadi forest heroes dan nominator Penghargaan Wana Lestari tingkat nasional. Mereka belajar langsung dari praktik pengelolaan hutan yang telah dilakukan masyarakat Ciloto.

 

Di sinilah kuncinya. Hutan tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan sumber penghidupan masyarakat tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya.

 

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah agroforestri. Model ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan lahan untuk berbagai kegiatan produktif sekaligus tetap menjaga fungsi lingkungan kawasan hutan.

 

Selain itu, potensi wisata juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat. Kekuatan lokal menjadi modal penting agar manfaat pengelolaan hutan tidak hanya berhenti pada kelestarian lingkungan, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga.

 

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani mengatakan pengalaman kelompok yang berhasil perlu ditularkan kepada masyarakat di daerah lain.

 

“Penghargaan bukanlah akhir, tetapi justru menjadi awal,” ujar Catur.

 

Menurutnya, keberhasilan para penerima dan nominator Wana Lestari harus menjadi contoh yang dapat dipelajari dan disesuaikan oleh kelompok Perhutanan Sosial lainnya.

 

Sekolah Lapang kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman tersebut. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi melihat langsung praktik pengelolaan hutan, berdiskusi dengan masyarakat, serta mempelajari inovasi usaha yang bisa diterapkan sesuai potensi daerah masing-masing.

 

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Cianjur mendorong agar produk masyarakat tidak berhenti sebagai produk lokal. Peningkatan kualitas, sertifikasi, pengemasan, pengolahan, hingga akses pasar menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai tambah.

 

Fasilitasi sertifikasi halal dan perizinan BPOM juga didorong agar produk masyarakat dapat masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk rantai pasok sektor pariwisata dan perhotelan.

 

Dengan demikian, masyarakat tidak harus memilih antara menjaga hutan atau meningkatkan pendapatan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika potensi alam dikelola secara bijak, kelembagaan masyarakat diperkuat, dan produk lokal mendapatkan nilai tambah.

 

Ciloto menjadi salah satu contoh bahwa hutan yang tetap hijau juga dapat membuka peluang ekonomi. Dari kearifan lokal, masyarakat belajar bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.