Oleh: Faldy Lonardo
Sekretaris Dewan Kesenian Palembang
Ikhtiar menanamkan ingatan sejarah melalui peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam yang digelar di kawasan Lawang Borotan, Benteng Kuto Besak, pada 3 Januari 2026, bukanlah sekadar agenda mengenang masa lalu. Bagi Kota Palembang, peringatan ini merupakan upaya merawat ingatan bersama sekaligus meneguhkan identitas sejarah dan kebudayaan lokal yang selama ini kurang mendapat ruang dalam wacana masyarakat.
Peristiwa Perang 5 Hari 5 Malam pada 1 sampai 5 Januari 1947 adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa. Di Palembang, perlawanan tersebut melibatkan rakyat dan berbagai elemen masyarakat yang mempertaruhkan harta, keluarga, bahkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dalam perjalanan waktu, makna historis peristiwa ini kerap tereduksi, kalah oleh persepsi tanggal 1 Januari sebagai sekadar penanda pergantian tahun.
Peringatan yang dilaksanakan tahun ini menunjukkan bahwa sejarah tidak harus disampaikan secara kaku dan formal. Melalui pawai budaya, pertunjukan seni tradisi, musik perjuangan, hingga teatrikal dan pantomim, sejarah dihadirkan sebagai pengalaman budaya yang hidup. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Dewan Kesenian Palembang (DKP) bahwa seni memiliki peran strategis sebagai medium edukasi publik, terutama dalam menyampaikan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.
Kehadiran para veteran dan penyerahan tali kasih menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar arsip atau teks akademik, melainkan pengalaman nyata manusia. Penghormatan kepada para pejuang adalah bagian dari etika kebudayaan bahwa kota yang beradab adalah kota yang menghargai jasa pendahulunya.
Selama lima tahun terakhir, peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam tumbuh dari inisiatif komunitas yang digerakkan secara swadaya. Keterlibatan berbagai komunitas, termasuk komunitas seni dan komunitas otomotif seperti Jeep Palembang Sumatera Selatan, menunjukkan kuatnya kesadaran warga untuk menjaga sejarah lokal. Partisipasi ini bukan sekadar dukungan teknis, tetapi ekspresi rasa memiliki terhadap ingatan bersama Palembang.
Dari sudut pandang kebudayaan, keterlibatan komunitas merupakan fondasi penting dalam pelestarian sejarah. Namun demikian, dukungan pemerintah daerah tetap menjadi faktor kunci agar upaya ini berkelanjutan dan terintegrasi dalam kebijakan publik. Kehadiran Pemerintah Kota Palembang dan masuknya peringatan ini ke dalam kalender event resmi merupakan langkah positif yang patut diapresiasi.
Ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Ia perlu dikembangkan sebagai ruang pembelajaran publik yang berkelanjutan, terhubung dengan pendidikan formal, pariwisata sejarah, dan penguatan identitas budaya kota. Sosialisasi kepada anak anak sekolah sejak usia dini menjadi investasi jangka panjang dalam membangun kesadaran sejarah.
Bagi DKP, peringatan ini juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor antara seniman, komunitas, akademisi, dan pemerintah untuk merumuskan cara-cara kreatif dalam menghidupkan sejarah lokal. Sejarah yang dirawat melalui seni dan budaya akan lebih mudah diterima, diingat, dan dimaknai oleh masyarakat.
Pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya merawat ingatan dan identitas. Palembang memiliki sejarah besar yang layak terus dihidupkan. Peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam adalah salah satu ikhtiar untuk memastikan sejarah tersebut tetap hadir, berbicara, dan memberi arah bagi generasi penerus.
















