Scroll untuk baca artikel
Opini

Menolak Narasi “Jalan di Tempat”: Infrastruktur Harus Jadi Mesin Pencetak Sarjana dan Lapangan Kerja di OKI

×

Menolak Narasi “Jalan di Tempat”: Infrastruktur Harus Jadi Mesin Pencetak Sarjana dan Lapangan Kerja di OKI

Sebarkan artikel ini

​​Oleh: Fadhilah Amirullah, S.E.
Ketua DPD KNPI Kabupaten Ogan Komering Ilir

 

​Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) hari ini sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita bangga dengan bentangan wilayah yang luas dan posisi strategis sebagai pintu gerbang Trans Sumatera. Namun di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa ekonomi kita terkesan “jalan di tempat.” Sebagai Ketua KNPI, saya melihat ada anomali besar: pembangunan fisik terlihat, tapi denyut kesejahteraan di dompet pemuda dan meja makan keluarga di pelosok desa masih terasa sesak.

Paradoks Pembangunan: Jalan Bagus, Tapi Pengangguran Tinggi?

​Kita harus berani mengkritik pola pembangunan yang hanya berfokus pada seremonial aspal. Infrastruktur tanpa strategi hilirisasi ekonomi hanyalah jalur perlintasan bagi orang luar untuk mengeruk kekayaan bumi OKI.

​Faktanya, angka pengangguran di kalangan pemuda OKI masih menjadi rapor merah yang harus kita selesaikan. Mengapa? Karena konektivitas jalan belum mampu mengundang industri yang menyerap tenaga kerja lokal secara masif. Kita butuh infrastruktur yang terintegrasi dengan kawasan industri dan sentra UMKM, agar pemuda kita tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri atau terpaksa merantau karena ketiadaan peluang.

 

Krisis SDM: Satu Keluarga, Satu Sarjana Harus Jadi Nyata

​Persoalan ekonomi di OKI berakar pada rantai kemiskinan sistemik. Sangat menyedihkan melihat di tengah potensi daerah yang melimpah, masih banyak ditemukan satu keluarga yang tidak memiliki satu pun anggota keluarga bergelar sarjana.

​Pendidikan adalah eskalator ekonomi. Namun, bagaimana anak muda di pelosok bisa bermimpi kuliah jika akses transportasi menuju pusat pendidikan mahal dan sulit? Infrastruktur yang buruk di wilayah perairan dan pedalaman secara tidak langsung telah “Membunuh” mimpi-mimpi sarjana muda kita. Investasi pada jalan dan jembatan harus berujung pada penurunan biaya hidup, sehingga orang tua di desa mampu menguliahkan anaknya.

 

Visi KNPI: Infrastruktur untuk Kedaulatan Ekonomi

​KNPI OKI tidak ingin infrastruktur hanya jadi proyek tahunan yang hancur saat musim hujan tiba. Kami menuntut:

​Link and Match: Pembangunan infrastruktur harus sejalan dengan pembukaan zona ekonomi baru yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja pemuda OKI.

​Akses Pendidikan: Konektivitas wilayah terisolasi harus dibuka agar distribusi bantuan pendidikan dan akses informasi beasiswa sampai ke tangan pemuda di ujung desa.

​Pemberdayaan Lokal: Proyek pembangunan di OKI harus melibatkan pengusaha dan tenaga kerja lokal, bukan hanya jadi “lapak” bagi pemain besar dari luar daerah.

Penutup

​Kita tidak butuh angka statistik pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika di lapangan pemuda masih menganggur dan angka putus sekolah tetap tinggi. Ekonomi OKI tidak boleh lagi “jalan di tempat” di atas aspal yang baru dibangun.

​Saatnya infrastruktur dikonversi menjadi lapangan kerja dan gelar sarjana bagi setiap keluarga di Bumi Bende Seguguk. Jika tidak sekarang, kapan lagi pemuda OKI akan berdaulat di rumahnya sendiri?