Scroll untuk baca artikel
PalembangSejarah

P5H5M Palembang Menuju Agenda Kota, Sejarah Perjuangan dan APBD 2027

×

P5H5M Palembang Menuju Agenda Kota, Sejarah Perjuangan dan APBD 2027

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Pagi di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang selalu hening. Di antara deretan nisan, doa dibacakan pelan. Tak ada sorak, tak ada spanduk besar, hanya langkah-langkah yang tertib dan wajah-wajah yang paham bahwa ingatan tentang perjuangan harus dijaga.

Lima tahun sudah peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam (P5H5M) digelar di Palembang, dan selama itu pula ia dirawat melalui swadaya komunitas.

Di tempat inilah rangkaian Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam (P5H5M) 2026 ditutup.

Lima tahun sudah peringatan ini berjalan, lima tahun pula komunitas di Palembang menanggungnya dengan swadaya.

Tanpa kepastian anggaran. Tanpa jaminan keberlanjutan. Yang ada hanya satu keyakinan: ingatan tidak boleh putus.

Pertempuran itu, bukan sekadar catatan tanggal 1–5 Januari 1947. Ia adalah fragmen penting sejarah Palembang ketika kota ini mempertahankan kemerdekaan dengan segala keterbatasan.

Namun selama bertahun-tahun, fragmen itu hidup lebih sering di ruang diskusi, film dokumenter, dan ziarah sunyi, bukan di kalender resmi Pemerintah Kota (Pemkot).

Vebri Al Lintani, Ketua Pelaksana P5H5M, mengingat betul bagaimana peringatan ini dirintis. Dari meminjam ruang, mengumpulkan dana secara patungan, hingga meyakinkan publik bahwa P5H5M layak diingat setiap tahun.

“Alhamdulillah, kegiatan yang kita adakan ini berjalan dengan baik, dan untuk dananya sendiri berasal dari swadaya komunitas,” ujarnya. Senin (5/1/2026).

Tahun kelima menjadi titik balik. Untuk pertama kalinya, pemerintah kota secara terbuka menyatakan dukungan. Wali Kota Palembang Ratu Dewa disebut telah mengarahkan agar P5H5M ke depan difasilitasi melalui APBD. Pemkot, yang selama ini hadir di pinggir, mulai melangkah ke tengah.

Dukungan pemerintah kota mulai menemukan bentuknya. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, menyebut bahwa peringatan P5H5M tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan berbasis swadaya semata. Mulai 2027, pemerintah berencana mengalokasikan anggaran khusus agar peringatan sejarah ini dapat digelar penuh selama lima hari.

“Kita akan membuat anggaran untuk bisa mendanai peringatan P5H5M di Palembang selama lima hari, jadi tidak lagi menggunakan anggaran swadaya tapi melalui APBD Kota Palembang mulai tahun 2027 mendatang,” ujarnya.

Langkah tersebut, menurut Sulaiman, akan ditempuh melalui koordinasi dengan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Palembang. Koordinasi ini menjadi pintu masuk agar dukungan anggaran dapat berjalan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku.

“Kita akan melakukan koordinasi bersama BPKAD Kota Palembang untuk dana yang dikeluarkan untuk kegiatan peringatan P5H5M tersebut,” katanya.

Rencana penganggaran ini, lanjutnya, sejalan dengan arahan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang mendorong pemerintah daerah hadir lebih aktif dalam mendukung peringatan P5H5M.

Dengan dukungan tersebut, ia memastikan peringatan P5H5M pada 2027 mendatang akan digelar lebih besar dan lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kita sangat mendukung dan optimis kegiatan ini di 2027 mendatang akan lebih besar dan lebih baik lagi dibandingkan tahun ini,” ujarnya.

Lebih dari sekadar seremoni, Sulaiman memandang P5H5M sebagai momentum strategis untuk mengangkat potensi wisata sejarah Palembang. Ia menilai masih banyak jejak perjuangan yang tersembunyi dan belum tergarap maksimal.

“Kita melihat masih adanya jejak perjuangan yang tersembunyi dan masih bisa kita kembangkan melalui kegiatan ini yang bisa dijadikan destinasi wisata sejarah,” katanya.

Di sisi lain, di Aula Legiun Veteran RI, pemutaran film P5H5M disaksikan para veteran yang menjadi saksi zaman. Di wajah mereka, sejarah bukan sesuatu yang dibaca, melainkan dihidupi.

Ketua DPD LVRI Sumsel, Dr. Ramses PN.D., M.In., menyampaikan terima kasih sederhana, khas pejuang.
“Yang penting kita sudah menjalankan tugas masing-masing,” ucapnya.

Kalimat itu terasa ringan, tapi sarat makna. Sebab waktu terus berjalan, dan saksi sejarah kian berkurang. Pertanyaannya siapa yang bertanggung jawab menjaga P5H5M nantinya.

Jika rencana APBD 2027 benar-benar terwujud, P5H5M akan memasuki babak baru. Dari peringatan yang dirawat komunitas, menjadi agenda kota. Dari ingatan yang dijaga sederhana, menjadi sejarah yang dikenalkan terbuka.

Namun satu hal tak boleh berubah: ruhnya. Sebab P5H5M lahir bukan dari proyek, melainkan dari kesadaran. Dan sejarah, sebagaimana perjuangan itu sendiri, selalu bermula dari mereka yang memilih untuk tidak lupa. (fly)