Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Bukan Obat Biasa, Tanaman Ini Diolah Jadi Pakan Ayam dengan Teknologi Nano

×

Bukan Obat Biasa, Tanaman Ini Diolah Jadi Pakan Ayam dengan Teknologi Nano

Sebarkan artikel ini

Bojonegoro, UpdateKini – Tanaman meniran yang selama ini dikenal sebagai tanaman herbal ternyata tengah dikembangkan menjadi bagian dari inovasi pakan ayam petelur. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) memperkenalkan nano ekstrak meniran sebagai feed additive untuk membantu meningkatkan produktivitas ayam petelur sekaligus mendorong efisiensi usaha peternak.

 

Melansir laman resmi Universitas Airlangga (UNAIR), 15 Agustus 2026, inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini melibatkan sekitar 20 peternak yang tergabung dalam kelompok ternak Rejo Bejoyo dan Manunggal Bersama.

 

Nano ekstrak tersebut berasal dari tanaman meniran (Phyllanthus niruri) yang diproses menggunakan teknologi nano. Pengolahan ini ditujukan untuk meningkatkan kemudahan penyerapan bahan aktif di dalam tubuh ternak.

 

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR, Dr Emy Koestanti Sabdoningrum drh MKes, mengatakan penerapan nano ekstrak meniran menunjukkan hasil positif dalam mendukung produktivitas ayam petelur. Inovasi tersebut juga diarahkan untuk membantu menekan biaya pakan yang menjadi salah satu komponen utama biaya produksi peternakan.

 

“Melalui inovasi ini, kami ingin membantu peternak memperoleh alternatif teknologi pakan yang dapat mendukung kesehatan dan produktivitas ayam sekaligus meningkatkan efisiensi usaha,” jelas Emy.

 

Prof Sri Hidanah menambahkan, sejumlah penelitian pada ayam menunjukkan potensi meniran dalam mendukung pertumbuhan, kesehatan, daya tahan tubuh, kualitas telur, dan produktivitas. Karena itu, tanaman tersebut dikembangkan sebagai salah satu bahan alami dalam inovasi pakan ternak.

 

Nano ekstrak meniran juga berpotensi berperan sebagai imunomodulator atau imunostimulan. Pengembangannya menjadi salah satu alternatif alami dalam mendukung upaya mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) yang telah dilarang dalam dunia peternakan.

 

Selain meniran, FKH UNAIR memperkenalkan teknologi fermentasi bekatul menggunakan fermentor. Pengolahan ini bertujuan meningkatkan kualitas bekatul sebagai bahan pakan ayam petelur.

 

Prof Widya Lokapirnasari menjelaskan, kandungan serat kasar yang terlalu tinggi pada bekatul dapat mengganggu proses pencernaan ayam. Melalui fermentasi, kualitas bahan pakan diharapkan menjadi lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan nutrisi ayam petelur.

 

Pemanfaatan bekatul fermentasi juga membuka peluang bagi peternak untuk mengoptimalkan bahan pakan yang lebih terjangkau di tingkat lokal sehingga dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi.

 

Dalam kegiatan tersebut, peternak juga mendapatkan edukasi mengenai penggunaan antibiotik dan bahan herbal dalam pemeliharaan ayam. Tim FKH UNAIR menjelaskan bahwa antibiotik digunakan untuk pengobatan ketika terdapat indikasi penyakit dan tidak dianjurkan digunakan secara rutin sebagai tindakan pencegahan.

 

Melalui edukasi, demonstrasi teknologi, dan pendampingan, FKH UNAIR berharap peternak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkan teknologi tersebut secara mandiri.

 

Inovasi nano ekstrak meniran dan fermentasi bekatul diharapkan dapat membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas ayam petelur sekaligus menekan biaya produksi. FKH UNAIR juga berharap teknologi tersebut dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok peternak setelah kegiatan pendampingan berakhir.