Palembang, UpdateKini — Pemerintah Kota Palembang bersama berbagai elemen masyarakat menggelar peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam di kawasan Lawang Borotan (Benteng Kuto Besak/BKB), Sabtu (3/1/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif atas perjuangan rakyat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Peringatan berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, diawali dengan pawai budaya yang mengambil rute di sekitar kawasan Lawang Borotan.
Beragam pertunjukan seni dan tradisi ditampilkan, mulai dari kuntau, CBCA, syarofal anam, hingga korsik biola dan saksofon yang membawakan lagu-lagu perjuangan seperti Gugur Bunga serta lagu-lagu Nusantara.
Pertunjukan teatrikal dan pantomim turut menguatkan narasi heroisme rakyat Palembang dalam peristiwa Pertempuran 5 Hari 5 Malam.
Salah satu momen yang sarat makna dalam peringatan tersebut adalah penyerahan tali kasih kepada para veteran, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan pejuang kemerdekaan.

Ketua Pelaksana kegiatan, Vebri Al Lintani, mengatakan peringatan ini merujuk pada peristiwa Perang 5 Hari 5 Malam yang terjadi pada 1 hingga 5 Januari 1947.
Ia menyebutkan, kegiatan tahun ini merupakan peringatan kelima yang selama ini diselenggarakan oleh komunitas secara swadaya.
“Ini adalah upaya kami memperingati Perang 5 Hari 5 Malam yang terjadi pada 1 sampai 5 Januari 1947. Selama lima tahun terakhir, kegiatan ini digelar secara swadaya oleh komunitas,” ujar Vebri.
Menurutnya, peringatan tahun ini memiliki makna tersendiri karena Pemerintah Kota Palembang ikut berpartisipasi, serta Wali Kota Palembang hadir langsung dalam kegiatan tersebut.
Dukungan Pemkot, kata dia, juga diwujudkan melalui penyediaan sejumlah fasilitas yang menunjang kelancaran acara.
Vebri berharap ke depan peringatan Perang 5 Hari 5 Malam dapat memperoleh dukungan anggaran resmi dari pemerintah, sehingga tidak hanya bertumpu pada swadaya masyarakat, tetapi juga mendapat subsidi daerah.
Ia menilai penguatan dukungan tersebut penting, mengingat Perang 5 Hari 5 Malam merupakan sejarah lokal yang lama tidak terangkat, sehingga banyak generasi muda tidak mengenal makna penting tanggal 1 Januari dalam perjalanan sejarah Kota Palembang.
“Selama ini tanggal 1 Januari lebih dikenal sebagai momen pergantian tahun. Padahal, pada tanggal itu pernah terjadi peristiwa besar yang menentukan arah sejarah Palembang,” katanya.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menegaskan komitmen pemerintah kota untuk terus menyebarluaskan nilai-nilai sejarah perjuangan, khususnya kepada anak-anak sekolah dari tingkat TK hingga SMP.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami besarnya pengorbanan para pejuang, baik nyawa, waktu, maupun tenaga, demi kemerdekaan bangsa.
“Nilai perjuangan harus ditanamkan sejak dini, agar anak-anak memahami bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan yang tidak kecil,” ujar Ratu Dewa.
Ia menambahkan, peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam bukan sekadar agenda seremonial, melainkan kegiatan strategis yang telah masuk dalam kalender event Dinas Pariwisata Kota Palembang, sehingga akan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), M. Nasir, menilai peringatan Perang 5 Hari 5 Malam memiliki nilai strategis dalam pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya.
Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Palembang yang perlu terus dikenalkan kepada publik.
“Sejarah perjuangan ini memiliki nilai edukasi sekaligus daya tarik wisata sejarah. Karena itu, peringatannya perlu dikemas secara berkelanjutan dan diperkuat dalam kalender event pariwisata,” ujarnya.
Ia menegaskan, keterlibatan komunitas dan dukungan pemerintah daerah menjadi kunci agar sejarah lokal tidak hanya dikenang, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran publik serta penguatan karakter kebangsaan. (fly)
















