Scroll untuk baca artikel
Blog

Pesan Orang Tua Rieke Diah Pitaloka Ini Jadi Warisan Paling Berharga dalam Hidupnya

×

Pesan Orang Tua Rieke Diah Pitaloka Ini Jadi Warisan Paling Berharga dalam Hidupnya

Sebarkan artikel ini

Jakarta, UpdateKini – Aktris sekaligus politikus Rieke Diah Pitaloka mengungkapkan bahwa dirinya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, kepedulian, dan pengabdian kepada sesama. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, kedua orang tuanya selalu menanamkan semangat untuk terus belajar dan membantu orang lain.

 

Dalam perbincangan di kanal YouTube Jeda Nulis yang tayang pada Rabu (5/8), Rieke menceritakan bahwa orang tuanya tidak pernah menjanjikan harta warisan. Sebaliknya, mereka mewariskan nilai kehidupan yang terus dipegangnya hingga kini.

 

> “Mereka bilang, kita nggak bisa mewariskan apa-apa selain semangat untuk mengejar ilmu dan membantu orang lain,” ujar Rieke.

 

Ia mengenang, saat mulai mendapatkan penghasilan dari dunia syuting, hampir seluruh uangnya diserahkan kepada sang ibu. Namun, uang tersebut justru dibagikan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan.

 

Menurut Rieke, ibunya akan membagi uang itu ke dalam amplop untuk diberikan kepada pedagang kecil, anak-anak yang membutuhkan biaya sekolah atau kuliah, hingga guru mengajinya. Dari seluruh penghasilannya, Rieke hanya menerima sedikit untuk kebutuhan pribadinya.

 

Rieke menilai jiwa filantropi sang ibu sangat kuat. Sementara ayahnya, seorang pengacara, juga mengajarkan agar hidup tidak semata-mata mengejar materi.

 

“Ayahku selalu bilang, jangan mengejar materi. Materi itu perlu untuk hidup, tapi tujuan hidupmu bukan mencari materi,” tuturnya.

 

Ia menjelaskan, sang ayah lebih banyak menangani perkara hukum secara pro bono atau tanpa meminta bayaran, terutama membantu masyarakat kecil yang menghadapi persoalan hukum, termasuk konflik lahan. Bahkan, biaya administrasi persidangan bagi sebagian klien kerap ditanggung sendiri oleh keluarganya.

 

Rieke mengaku ibunya beberapa kali meminta sang ayah menagih honor kepada klien yang telah memenangkan perkara. Namun jawaban ayahnya selalu sama.

 

“Kalau orang nggak bayar, berarti bukan rezeki kita,” kenangnya.

 

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sang ibu menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari berjualan peralatan rumah tangga secara kredit, menjadi terapis pijat refleksi keliling, hingga meracik jamu.

 

Pengalaman masa kecil itu, menurut Rieke, menjadi alasan mengapa ia selalu menceritakan kisah keluarganya di berbagai kesempatan. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah dalam menjalani hidup.

 

“Kesulitan ekonomi itu bukan berarti kemudian kita harus menyerah,” tegasnya.