Oleh: Muhammad Abdillah Asmara
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah
Ramadan bukan sekadar kewajiban ritual tahunan, melainkan respons spiritual terhadap krisis makna yang melanda manusia modern. Di tengah dunia yang dipenuhi percepatan teknologi, kompetisi ekonomi, dan budaya konsumtif, manusia mengalami apa yang oleh Viktor Frankl disebut sebagai existential vacuum, yaitu kehampaan makna yang tidak dapat diisi oleh pencapaian material semata.
Modernitas menjanjikan kenyamanan, tetapi sering gagal menyediakan kedalaman. Dalam konteks ini, Ramadan menghadirkan struktur spiritual yang memaksa manusia berhenti, menahan diri, dan merefleksikan orientasi hidupnya. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menunda impuls, membatasi keinginan, dan mengembalikan kesadaran akan keterbatasan diri. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah “la’allakum tattaqun” (QS. Al-Baqarah: 183), yakni pembentukan kesadaran moral yang reflektif. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hakikat puasa adalah menundukkan syahwat agar hati menjadi jernih dan mampu menerima cahaya kebenaran.
Dalam praktik konkret, banyak profesional urban mengakui bahwa Ramadan menjadi momen detoks digital, pengurangan konsumsi berlebihan, serta peningkatan refleksi diri melalui tilawah dan qiyamul lail. Dengan demikian, Ramadan harus dipahami sebagai terapi eksistensial yang menyediakan kerangka makna di tengah kegaduhan modernitas, bukan sekadar kewajiban ritual yang dijalankan secara mekanis.
Disiplin puasa Ramadan membentuk regulasi diri yang secara psikologis sangat dibutuhkan oleh manusia modern yang terjebak dalam budaya instan. Era digital membiasakan manusia pada kepuasan seketika seperti makanan cepat saji, hiburan instan, respons pesan real time sehingga kemampuan menunda kenikmatan semakin menurun. Padahal, psikologi modern menegaskan bahwa kemampuan delayed gratification berkorelasi dengan keberhasilan hidup, stabilitas emosi, dan kematangan moral. Puasa selama satu bulan penuh melatih kontrol diri secara sistematis dan kolektif, menjadikannya latihan regulasi diri terbesar dalam kehidupan sosial umat Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim), yang oleh para ulama dimaknai sebagai pelindung dari dorongan destruktif internal.
Penelitian Robert Emmons dan Kenneth Pargament tentang spiritualitas dan kesejahteraan menunjukkan bahwa praktik religius yang terstruktur meningkatkan kontrol diri dan ketahanan psikologis. Dalam kehidupan nyata, individu yang berpuasa tetap bekerja, berinteraksi, dan berproduksi tanpa makan dan minum selama berjam-jam, suatu latihan kontrol impuls yang jarang ditemui dalam sistem pendidikan modern.
Oleh karena itu, Ramadan juga berfungsi sebagai institusi pendidikan karakter yang menyediakan latihan regulasi diri secara intensif dan kolektif, menjadikannya kebutuhan psikologis yang relevan bagi manusia abad ke-21.
Bulan suci Ramadan sejatinya memiliki dimensi sosial yang menjawab krisis individualisme dalam masyarakat modern yang semakin terfragmentasi. Modernitas menciptakan paradoks konektivitas digital meningkat, tetapi kedekatan emosional menurun. Banyak orang hidup dalam jejaring virtual namun mengalami kesepian eksistensial.
Secara unik bulan suci Ramadan menghadirkan pengalaman kolektif yang menyatukan individu lintas kelas sosial melalui ibadah, berbuka bersama, dan distribusi zakat serta sedekah. Pengalaman lapar yang sama menciptakan empati sosial yang konkret, bukan sekadar retorika moral. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut” (HR. Tirmidzi).
Ayat tentang zakat (QS. At-Taubah: 60) Alquran telah menegaskan redistribusi kekayaan sebagai kewajiban sosial. Secara empiris, laporan lembaga filantropi menunjukkan peningkatan signifikan donasi dan solidaritas sosial selama Ramadan. Bahkan dalam konteks kota besar seperti Jakarta atau Kuala Lumpur, gerakan dapur umum dan buka puasa gratis memperlihatkan revitalisasi solidaritas publik.
Bulan suci Ramadan tidak hanya memperbaiki hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga merekatkan kembali relasi horizontal antar manusia yang terancam oleh individualisme modern.
Puasa Ramadan menghadirkan integrasi antara dimensi spiritual dan kesehatan fisik yang menunjukkan keselarasan antara wahyu dan kebutuhan biologis manusia. Salah satu kritik modern terhadap agama adalah anggapan bahwa praktik ritual tidak memiliki relevansi rasional. Namun perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa pola puasa teratur memiliki manfaat metabolik, termasuk peningkatan sensitivitas insulin, proses autofagi, dan perbaikan fungsi kognitif.
Hal ini memperlihatkan bahwa ibadah tidak berdiri terpisah dari tubuh, melainkan bekerja secara integral dengan sistem biologis manusia. Penelitian Valter Longo dan Mark Mattson tentang intermittent fasting menunjukkan efek positif terhadap kesehatan seluler dan penuaan. Rasulullah SAW juga bersabda, “Berpuasalah kalian, niscaya kalian sehat” (HR. Thabrani). Dalam praktiknya, banyak individu melaporkan peningkatan kejernihan pikiran dan stabilitas emosi selama Ramadan ketika pola makan terkontrol dan ibadah meningkat.
Keselarasan antara temuan ilmiah dan praktik spiritual ini mempertegas bahwa Ramadan bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi sistem kehidupan holistik yang menjawab kebutuhan jasmani dan ruhani manusia modern.
Pada akhirnya, Ramadan harus dipahami sebagai momentum rekonstruksi identitas spiritual di tengah krisis nilai global yang terus menggerus fondasi moral manusia modern. Globalisasi membawa pluralitas nilai, namun juga relativisme yang sering mengaburkan batas benar dan salah. Dalam situasi ini, manusia membutuhkan jangkar moral yang kokoh agar tidak terombang-ambing oleh arus ideologi dan kepentingan pasar.
Ramadan menghadirkan disiplin, refleksi, dan intensifikasi hubungan dengan wahyu sebagai sumber orientasi nilai yang transenden. Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa krisis modernitas adalah krisis spiritual akibat terputusnya manusia dari pusat sakralitas. Dalam Alquran Surat Al-Ra’d: 28 menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” yang menegaskan kebutuhan batiniah manusia akan koneksi transenden.
Secara konkret, banyak individu menjadikan Ramadan sebagai titik balik perubahan hidup menghentikan kebiasaan buruk, memperbaiki relasi keluarga, atau memulai komitmen moral baru. Oleh karena itu, memandang Ramadan hanya sebagai kewajiban ritual berarti mereduksi kedalaman maknanya, sebab sejatinya ia adalah kebutuhan eksistensial yang menawarkan rekonstruksi makna, moralitas, dan identitas manusia modern secara menyeluruh. Waullahu a’lam bi showab
















