Oleh: Muhammad Abdillah Asmara
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah
Ramadan adalah momen pembongkaran nurani kolektif yang sering kita bungkam sepanjang tahun. Puasa bukan sekadar latihan spiritual individual, melainkan pengalaman eksistensial yang memaksa manusia berhadapan dengan kenyataan sosial yang selama ini ia abaikan.
Ketika rasa lapar datang berulang setiap hari, ia bukan hanya sinyal biologis, tetapi panggilan etis untuk mengingat mereka yang lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketidakadilan struktural. Ramadan dengan demikian menghadirkan ruang refleksi yang jarang kita beri waktu dalam ritme kehidupan modern yang serba cepat.
Ia mengganggu kenyamanan, mematahkan rutinitas, dan menuntut kejujuran moral. Dalam penjelasan Hamka dalam Tafsir al-Azhar terkait dengan Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia bertakwa (QS. al-Baqarah [2]:183), disebutkan takwa tidak berhenti pada kesalehan pribadi, melainkan tercermin dalam kepekaan sosial dan keberanian moral.
Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa agama adalah nasihat (HR. Muslim), yang berarti keberagamaan menuntut keberanian untuk mengoreksi diri dan lingkungan. Dengan demikian, Ramadan seharusnya dipahami sebagai momentum kritik sosial yang lahir dari kesadaran iman, bukan sekadar ritual tahunan yang menenangkan hati tanpa menggugah struktur ketidakadilan.
Puasa juga menjadi ruang untuk menguji konsistensi antara kesalehan simbolik dan tanggung jawab etis. Di tengah masyarakat yang gemar menampilkan identitas religius, Ramadan menjadi ujian apakah simbol itu memiliki isi atau hanya citra. Sebagaimana menahan lapar dan dahaga pada siang hari bukan hanya sebuah disiplin lahiriah, tetapi juga menjaga kejujuran, keadilan, dan empati sepanjang waktu merupakan disiplin batiniah yang jauh lebih berat.
Jika seseorang rajin beribadah tetapi terlibat dalam praktik manipulatif, maka terdapat jurang antara ritual dan moralitas. Hal ini telah dijelaskan oleh Al-Qur’an surat al-Mutaffifin [83]:1–3 yang mengecam keras orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, sebuah metafora kuat tentang ketidakjujuran sosial.
Dalam karya Bidayat al-Mujtahid, Ibn Rushd menegaskan bahwa tujuan hukum Islam adalah menjaga keadilan dalam interaksi manusia. Realitas kontemporer memperlihatkan praktik manipulasi informasi, penyalahgunaan jabatan, hingga ketidakjujuran akademik yang tetap berlangsung bahkan di bulan suci.
Ramadan menjadi kritik diam yang mempertanyakan integritas tersebut. Oleh karena itu, puasa yang autentik harus melahirkan keselarasan antara simbol keagamaan dan etika sosial, sebab tanpa integritas, spiritualitas kehilangan makna substantifnya dalam kehidupan publik.
Ketimpangan sosial adalah ironi yang paling telanjang di bulan suci Ramadan. Hal ini dikarenakan Ramadan memperlihatkan dua wajah masyarakat secara bersamaan, di mana kemeriahan berbuka di ruang-ruang mewah dan kesunyian dapur keluarga miskin yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Kontras ini bukan sekadar perbedaan gaya hidup, tetapi cermin dari distribusi sumber daya yang tidak merata. Puasa seharusnya menumbuhkan empati, namun empati harus berkembang menjadi kritik terhadap sistem yang memungkinkan jurang tersebut terus melebar. Dalam Al-Qur’an surat al-Dzariyat [51]:19 Allah SWT menegaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak bagi orang miskin dan yang membutuhkan.
Dalam pemikiran ekonomi Islam modern, Monzer Kahf menjelaskan bahwa konsep kepemilikan dalam Islam selalu terikat dengan tanggung jawab sosial. Fakta bahwa kemiskinan struktural masih bertahan menunjukkan perlunya evaluasi kebijakan dan budaya ekonomi yang dominan.
Ramadan, dengan latihan pengendalian dirinya, mengingatkan bahwa konsumsi bukan tujuan hidup. Bulan suci ini harus menjadi momentum kesadaran kolektif bahwa ketimpangan bukanlah takdir ilahi, melainkan persoalan etis dan kebijakan yang menuntut koreksi bersama.
Budaya konsumerisme Ramadan memperlihatkan paradoks antara ajaran asketisme dan praktik materialisme.Bulan yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan justru sering dirayakan dengan ledakan belanja dan kompetisi simbolik yang mencolok. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai spiritual mudah terseret arus kapitalisme religius yang menjadikan agama sebagai komoditas.
Ketika fokus beralih dari pembinaan karakter menuju perayaan citra, maka makna puasa tereduksi menjadi formalitas sosial. Allah SWT menyebutkan dalam surat al-Isra’ [17]:27 bahwa para pemboros sebagai saudara setan, ayat ini seyogyanya menjadi sebuah peringatan keras terhadap perilaku berlebih-lebihan. Dalam analisis sosiologis yang dikemukakan oleh Ali Shariati, agama kehilangan daya revolusionernya ketika ia tunduk pada logika pasar.
Ramadan semestinya membebaskan manusia dari dominasi nafsu konsumtif, bukan justru memperkuatnya. Oleh sebab itu, kritik sosial terhadap Ramadan merupakan upaya memulihkan keseimbangan antara spiritualitas dan kesederhanaan sebagai inti ajaran Islam.
Kekuasaan publik harus diuji oleh etika Ramadan. Puasa melatih pengendalian diri dan kesadaran akan keterbatasan manusia, sehingga setiap pemegang amanah publik seharusnya menjadikannya sebagai refleksi atas tanggung jawabnya. Ketika kebijakan tidak berpihak pada keadilan, Ramadan menghadirkan kritik moral yang tidak bisa diabaikan.
Spirit bulan suci menuntut keberpihakan pada yang lemah dan komitmen terhadap kesejahteraan bersama. Sebagaimana dalam surat Sad [38]:26 Allah SWT memerintahkan Nabi Daud As untuk memutuskan perkara dengan adil dan tidak mengikuti hawa nafsu. Dalam karya al-Muqaddimah, Ibn Khaldun menekankan bahwa ketidakadilan adalah sebab utama runtuhnya peradaban.
Realitas ketimpangan akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja menjadi indikator bahwa nilai keadilan belum sepenuhnya terwujud. Ramadan menjadi momentum refleksi atas orientasi kebijakan publik. Dengan demikian, kekuasaan yang selaras dengan nilai Ramadan adalah kekuasaan yang adil, transparan, dan bertanggung jawab kepada rakyat serta kepada Tuhan.
Solidaritas sosial Ramadan harus melampaui karitas sesaat. Santunan dan pembagian bantuan memang penting, tetapi tanpa strategi pemberdayaan, ia hanya menyentuh permukaan masalah. Puasa mengajarkan konsistensi dan kesabaran, dua nilai yang diperlukan dalam pembangunan sosial jangka panjang.
Jika empati berhenti pada momen emosional, maka perubahan struktural sulit tercapai. Allah SWT menegaskan dalam surat al-Balad [90]:12–16 yang menggambarkan jalan mendaki yang berat sebagai contoh untuk membebaskan budak dan memberi makan pada hari kelaparan, menunjukkan bahwa solidaritas membutuhkan pengorbanan nyata. Dalam pemikiran kontemporer seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Yunus tentang kewirausahaan sosial, pemberdayaan ekonomi adalah kunci mengurangi kemiskinan.
Contoh konkret terlihat pada program pelatihan kerja berbasis masjid atau koperasi syariah yang membantu mustahik menjadi mandiri. Ramadan seharusnya memberikan energi moral untuk menginisiasi gerakan semacam ini.
Oleh karena itu, solidaritas Ramadan harus diarahkan pada pemberdayaan berkelanjutan agar kritik sosialnya menghasilkan transformasi nyata dalam struktur kehidupan masyarakat.
Kritik sosial dalam Ramadan adalah bagian dari iman yang dewasa dan reflektif. Keberanian menyuarakan kebenaran adalah manifestasi tanggung jawab spiritual, bukan tindakan permusuhan. Puasa melatih kedisiplinan dan ketahanan moral yang seharusnya memperkuat komitmen terhadap amar ma’ruf nahi munkar.
Tanpa kritik, agama berisiko menjadi legitimasi atas status quo yang tidak adil. Allah SWT memerintahkan manusia untuk dapat berbuat baik dan menegakkan keadilan dan kebaikan serta melarang kezaliman. Dalam pemikiran Abdolkarim Soroush, agama harus terus direfleksikan agar tetap relevan dan membebaskan. Sejarah Islam menunjukkan para ulama yang berani menasihati penguasa demi menjaga nilai keadilan.
Ramadan menghadirkan ruang spiritual untuk memperkuat tradisi kritik tersebut. Dengan demikian, Ramadan dan kritik sosial berpadu sebagai kekuatan moral yang menuntun masyarakat menuju integritas, keadilan, dan kematangan etis yang berkelanjutan dalam membangun peradaban yang beradab, waullahu a’lam bi showab
















