Scroll untuk baca artikel
OpiniRamadan

Ramadan Telah Tiba: Puasa untuk Apa?

×

Ramadan Telah Tiba: Puasa untuk Apa?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Abdillah Asmara
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah

Ketika Ramadan tiba, pertanyaan yang paling jujur bukanlah bagaimana menjalankannya, melainkan untuk apa puasa itu diwajibkan dalam lanskap kehidupan modern yang penuh distraksi dan ambisi. Banyak orang menyambut Ramadan dengan euforia seremonial jadwal sahur, agenda buka bersama, dan target khatam Al-Qur’an, namun jarang berhenti untuk merefleksikan dimensi filosofisnya.

Dalam dunia yang diatur oleh produktivitas, efisiensi, dan pencapaian material, puasa tampak seperti anomali, tindakan sengaja menahan diri dari sesuatu yang halal dan dibutuhkan. Justru di situlah letak signifikansinya.

Puasa adalah kritik terhadap paradigma hidup yang mengukur nilai manusia berdasarkan seberapa banyak ia mengonsumsi dan memiliki. Ia memperkenalkan jeda dalam arus percepatan sosial, sebuah suspension eksistensial yang mengundang refleksi tentang orientasi hidup.

Dalam QS. Al-Hashr: 18, Allah memerintahkan setiap orang beriman untuk memperhatikan apa yang dipersiapkannya untuk hari esok, menandakan pentingnya refleksi dan evaluasi diri. sebagaimana Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin menekankan bahwa ibadah adalah jalan pendidikan jiwa menuju kesadaran akan tujuan akhir manusia.

Dengan demikian, puasa seharusnya dipahami sebagai proses reorientasi eksistensial yang mengembalikan manusia pada pertanyaan paling mendasar tentang makna dan arah hidupnya.

Puasa merupakan latihan radikal dalam membangun kesadaran batin yang melampaui sekadar kepatuhan ritual formal. Di tengah budaya yang sangat visual dan serba terukur, manusia cenderung menilai keberhasilan ibadah dari indikator lahiriah, kehadiran di masjid, jumlah bacaan, atau frekuensi aktivitas religius. Namun puasa bekerja dalam ruang yang lebih sunyi dan tidak selalu terlihat.

Ia melatih kesadaran internal muraqabah yakni perasaan diawasi oleh Tuhan bahkan ketika tidak ada manusia yang menyaksikan. Inilah dimensi etis terdalam yang sering luput dari perhatian. Seperti dijelaskan dalam QS. Al-Insan: 9, yang menggambarkan orang-orang saleh memberi makan karena mengharap wajah Allah semata, tanpa menginginkan balasan atau ucapan terima kasih, sebuah contoh keikhlasan yang menjadi inti spiritualitas.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amalnya. Ulama seperti Imam Al-Muhasibi dalam Risalah al-Mustarshidin menekankan pentingnya pengawasan diri sebagai fondasi integritas moral. Oleh sebab itu, puasa adalah pendidikan kesadaran batin yang membangun integritas bahkan ketika ruang publik tidak mengawasi.

Puasa juga merupakan mekanisme dekonstruksi ego yang secara halus membentuk kerendahan hati di tengah budaya narsistik. Era media sosial melahirkan generasi yang terbiasa menampilkan diri, mengkurasi citra, dan mencari validasi publik.

Dalam atmosfer seperti itu, ego berkembang tanpa banyak hambatan. Puasa memotong rantai narsisme tersebut dengan menempatkan manusia pada kondisi rentan akan lapar, haus, dan lemah. Kerentanan ini menyadarkan bahwa manusia bukan pusat alam semesta, melainkan makhluk terbatas yang bergantung pada anugerah Tuhan.

Dalam QS. Al-Furqan: 63 Allah SWT menggambarkan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Jalaluddin Rumi dalam karya-karya tasawufnya menegaskan bahwa lapar dapat melembutkan hati dan meruntuhkan kesombongan batin.

Secara konkret, pengalaman menahan diri dari kemewahan makanan atau gaya hidup selama Ramadan sering melahirkan empati yang lebih tulus dan kesadaran akan keterbatasan diri. Dengan demikian, puasa berfungsi sebagai proses purifikasi ego yang sangat relevan di tengah kultur narsistik kontemporer.

Lebih lanjut, puasa mengajarkan etika tanggung jawab melalui pengalaman langsung akan keterbatasan sumber daya. Dunia modern menghadapi krisis ekologis akibat konsumsi berlebihan dan eksploitasi tanpa batas. Puasa memperkenalkan prinsip moderasi yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis.

Dengan membatasi konsumsi, manusia belajar bahwa keberlanjutan memerlukan pengendalian diri. Konsep ini selaras dengan etika Islam tentang keseimbangan (mizan) dan larangan berlebih-lebihan. Dalam QS. Al-A’raf: 31 Allah SWT memerintahkan manusia untuk tidak melampaui batas dalam konsumsi, sementara QS. Ar-Rum: 41 Allah SWT mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah manusia. Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi dalam pembahasannya tentang fiqh al-bi’ah (fikih lingkungan) menegaskan bahwa prinsip moderasi adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Dalam praktik nyata, keluarga yang mengurangi pemborosan makanan selama Ramadhan berkontribusi pada budaya keberlanjutan. Oleh karena itu, puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga pendidikan ekologis yang menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap bumi.

Puasa juga memiliki dimensi politik-moral sebagai pengingat bahwa kekuasaan harus dikendalikan oleh etika, bukan oleh nafsu dominasi. Sejarah menunjukkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan sering berakar pada ketidakmampuan mengendalikan ambisi.

Puasa melatih penguasa maupun rakyat untuk menahan diri, sehingga kekuasaan dipahami sebagai amanah, bukan hak absolut. Dalam konteks negara modern yang rawan penyalahgunaan jabatan, nilai ini sangat relevan. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa: 58 Allah SWT memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan agar manusia menetapkan hukum dengan adil.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal berpuasa dan hidup sederhana meski memegang kekuasaan besar, menjadikan asketisme sebagai landasan kepemimpinan. Dalam literatur politik Islam klasik seperti karya Al-Mawardi Al-Ahkam al-Sultaniyyah, integritas moral menjadi syarat utama legitimasi kepemimpinan. Maka, puasa dapat dibaca sebagai pendidikan etika kekuasaan yang menuntut pengendalian diri dalam pengelolaan otoritas publik.

Dalam dimensi psikologis, puasa menyediakan ruang kontemplatif yang jarang ditemukan dalam ritme hidup modern yang hiperaktif. Kehidupan kontemporer ditandai oleh overstimulasi informasi berlimpah, notifikasi tanpa henti, dan tuntutan multitasking. Kondisi ini memicu kelelahan mental dan kecemasan kronis. Puasa memperlambat ritme tubuh dan pikiran, menciptakan ruang bagi refleksi yang lebih jernih. Saat energi fisik berkurang, fokus batin justru meningkat.

Seperti yang ditegaskan dalam surat Asy-Syams: 9-10 Allah SWT menyatakan bahwa beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan merugilah yang mengotorinya, menunjukkan pentingnya proses penyucian batin. Psikolog seperti Abraham Maslow menempatkan kebutuhan aktualisasi diri pada puncak hierarki, yang hanya dapat dicapai melalui refleksi mendalam. Banyak orang melaporkan bahwa Ramadhan menjadi momen klarifikasi tujuan hidup dan prioritas personal.

Dengan demikian, puasa menghadirkan ruang sunyi yang memungkinkan manusia menata ulang keseimbangan psikologis dan spiritualnya.

Pada akhirnya, puasa adalah proyek pembentukan manusia utuh yang mengintegrasikan kesadaran spiritual, etika sosial, dan tanggung jawab peradaban. Jika Ramadhan hanya menghasilkan perubahan sementara tanpa dampak pasca bulan suci, maka ia gagal mencapai tujuannya.

Puasa seharusnya melahirkan manusia yang lebih adil, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap sesama. Transformasi ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi melalui kesungguhan refleksi dan konsistensi tindakan. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah: 177 menegaskan bahwa kebajikan bukan sekadar formalitas ritual, melainkan iman yang diwujudkan dalam tindakan sosial dan moral.

Fazlur Rahman dalam analisisnya tentang etika Al-Qur’an menekankan bahwa tujuan wahyu adalah membangun masyarakat bermoral, bukan sekadar individu ritualistik. Banyak kisah menunjukkan bahwa Ramadan menjadi titik balik perubahan hidup ketika seseorang benar-benar memaknainya sebagai momentum pembaruan diri. Maka, ketika Ramadhan telah tiba, pertanyaan “puasa untuk apa” hanya dapat dijawab secara jujur melalui perubahan nyata dalam karakter dan kontribusi kita terhadap peradaban yang lebih beradab.