Scroll untuk baca artikel
OpiniRamadan

Agama Musiman dan Kesalehan Ramadan

×

Agama Musiman dan Kesalehan Ramadan

Sebarkan artikel ini

Muhammad Abdillah Asmara
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah

 

Agama musiman adalah gejala ketika kesalehan hanya memuncak di bulan Ramadan lalu meredup setelah takbir terakhir. Fenomena ini bukan sekadar perubahan intensitas ibadah, tetapi cermin inkonsistensi spiritual yang lebih dalam. Setiap tahun masjid mendadak penuh, kajian ramai, sedekah meningkat, dan media sosial dipenuhi ayat serta nasihat, namun beberapa minggu setelah Idulfitri, ritme itu kembali seperti semula. Ini menunjukkan bahwa sebagian orang memaknai agama sebagai momentum emosional, bukan komitmen berkelanjutan. Kesalehan berubah menjadi tradisi musiman, bukan karakter permanen.

Al-Qur’an mengingatkan, “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat” (QS. al-Nahl [16]:92), sebuah metafora tentang inkonsistensi moral. Imam al-Nawawi dalam Riyad al-Salihin menekankan pentingnya istiqamah sebagai tanda keimanan yang matang.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Jika lonjakan ibadah hanya bertahan tiga puluh hari, maka ada persoalan dalam cara kita memahami agama. Dengan demikian, agama musiman adalah alarm etis bahwa spiritualitas kita belum bertransformasi menjadi komitmen hidup yang konsisten dan berkelanjutan.

Emosionalisme religius sering menggantikan kedalaman pemahaman spiritual. Ramadan menghadirkan atmosfer kolektif yang menggetarkan hati lantunan ayat, kebersamaan berbuka, hingga semarak tarawih namun getaran emosional tidak selalu identik dengan transformasi karakter. Banyak orang tersentuh sementara, tetapi tidak membangun disiplin rohani setelahnya.

Ini menunjukkan bahwa agama dipraktikkan pada level suasana, bukan kesadaran intelektual dan etis. Dalam Al-Qur’an surat al-Hadid [57]:16 terdapat suatu hal yang mempertanyakan mengapa hati orang beriman belum juga khusyuk ketika mengingat Allah, seakan menegur mereka yang terjebak formalitas.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali membedakan antara ibadah lahiriah dan kebangkitan hati yang autentik. Tanpa pemahaman mendalam, ibadah mudah menjadi rutinitas simbolik. Contoh konkret terlihat pada fenomena meningkatnya tilawah di Ramadan, tetapi menurun drastis setelahnya, atau semangat sedekah yang hanya muncul saat kampanye zakat musiman.

Oleh karena itu, tanpa internalisasi makna, kesalehan akan tetap dangkal dan musiman, karena ia tidak berakar pada kesadaran spiritual yang matang.

Budaya sosial turut membentuk pola kesalehan temporer. Dalam masyarakat yang religius secara kultural, tekanan sosial pada bulan Ramadan sangat kuat, orang merasa terdorong untuk terlihat taat karena norma kolektif mengarah ke sana. Namun ketika tekanan itu berkurang, komitmen pribadi pun melemah.

Ini menunjukkan bahwa sebagian praktik keagamaan lebih dipengaruhi oleh ekspektasi sosial daripada kesadaran iman. Sejalan dengan firman Allah SWT falam surat al-Baqarah [2]:264 yang memperingatkan agar sedekah tidak diiringi riya’ dan keinginan dipuji manusia. Bahkan Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa amal yang didorong oleh pencitraan sosial akan rapuh ketika apresiasi publik hilang.

Fenomena berbagi di media sosial yang intens selama Ramadan, lalu sunyi setelahnya, menjadi ilustrasi nyata. Jika ibadah bertumpu pada sorotan sosial, maka ia akan redup ketika panggung ditutup. Dengan demikian, agama musiman sering kali lahir dari religiositas yang bergantung pada validasi sosial, bukan pada komitmen iman yang independen dan tulus.

Minimnya pembinaan pasca Ramadan memperkuat siklus kesalehan sesaat. Banyak institusi dan komunitas fokus menghidupkan program selama Ramadan, tetapi tidak merancang keberlanjutan spiritual setelahnya. Akibatnya, Ramadan menjadi puncak aktivitas religius, bukan fondasi transformasi jangka panjang.

Kesalehan tidak diberi ruang untuk tumbuh dalam ritme kehidupan sehari-hari. Allah menyebutkan dalam surat Fussilat [41]:30 dengan memuji mereka yang berkata “Tuhan kami adalah Allah” lalu beristiqamah, menegaskan pentingnya konsistensi. Dalam pemikiran pendidikan Islam modern, Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan bahwa pembentukan adab memerlukan proses berkelanjutan, bukan momentum temporer.

Tanpa sistem pembinaan yang konsisten seperti halaqah rutin, kajian berkelanjutan, atau gerakan sosial yang stabil semangat Ramadan mudah menguap. Oleh karena itu, agama musiman tidak hanya persoalan individu, tetapi juga kegagalan kolektif dalam membangun ekosistem spiritual yang berkelanjutan.

Konsumerisme religius mempercepat reduksi makna ibadah menjadi perayaan simbolik. Ketika Ramadan lebih dikenal sebagai musim belanja dan promosi bernuansa Islami, agama berisiko direduksi menjadi identitas kultural yang dangkal. Orang bersemangat membeli atribut religius, tetapi kurang bersemangat membangun disiplin moral.

Fenomena ini menegaskan bahwa pasar sering kali lebih cepat merespons Ramadan dibanding kesadaran etis kita sendiri. Padahal dalam suratal-Takathur [102]:1–2 Allah SWT telah mengingatkan manusia agar tidak dilalaikan oleh perlombaan untuk memperbanyak harta. Dalam karya Islam and Modernity, Fazlur Rahman mengkritik kecenderungan umat Islam yang mempertahankan simbol tanpa menghidupkan substansi moralnya.

Dapat dilihat contoh secara konkret terjadi pada meningkatnya konsumsi selama Ramadan, sementara pengendalian diri yang menjadi inti puasa justru terabaikan. Dengan demikian, konsumerisme religius memperkuat agama musiman karena ia menekankan euforia simbolik, bukan pembinaan karakter yang konsisten.

Kesalehan musiman mencerminkan krisis integrasi antara iman dan kehidupan sehari-hari. Jika agama hanya hidup dalam ruang ritual, maka ia gagal menjadi panduan etika dalam pekerjaan, politik, ekonomi, dan relasi sosial. Ramadan memperlihatkan potensi spiritual luar biasa, tetapi potensi itu sering tidak diterjemahkan ke dalam keputusan sehari-hari setelah bulan suci berakhir.

Dalam surat Ali ‘Imran [3]:200 Allah SWT memerintahkan manusia untuk berpegang pada kesabaran dan keteguhan dalam berbagai situasi, bukan hanya pada momen tertentu. Dalam pemikiran Malik Bennabi, peradaban Islam akan bangkit jika nilai-nilai iman terintegrasi dalam struktur sosial, bukan terkurung dalam ruang ibadah.

Realitas menunjukkan bahwa praktik ketidakjujuran atau ketidakadilan tetap berlangsung meski Ramadan baru saja usai. Oleh karena itu, agama musiman menandakan belum terintegrasinya iman ke dalam sistem nilai kehidupan sehari-hari secara menyeluruh.

Jalan keluar dari agama musiman adalah menjadikan Ramadan sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Ramadan seharusnya dipahami sebagai madrasah pembentukan karakter yang melatih disiplin, empati, dan kejujuran untuk diterapkan sepanjang tahun. Jika nilai-nilai itu dipraktikkan setelahnya, maka bulan suci menjadi fondasi transformasi, bukan sekadar perayaan spiritual.

Kunci utamanya adalah kesadaran bahwa iman adalah proyek seumur hidup. Sebagaimana dalam surat al-Insyirah [94]:7–8 Allah SWT memerintahkan agar setelah selesai dari suatu urusan, seseorang bersungguh-sungguh pada urusan berikutnya, menandakan kesinambungan usaha. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin menegaskan bahwa perjalanan spiritual adalah proses bertahap dan terus-menerus.

Ketika Ramadan diposisikan sebagai awal perjalanan, maka energi moralnya tidak berhenti pada Idulfitri. Dengan demikian, mengatasi agama musiman berarti membangun kesadaran istiqamah, sehingga kesalehan tidak lagi bergantung pada kalender, melainkan berakar pada karakter dan komitmen hidup yang konsisten sepanjang waktu.