Palembang, UpdateKini – Di balik lipatan kainnya yang sederhana, Tanjak Palembang menyimpan cerita panjang tentang kebudayaan, kehormatan, dan nilai spiritual masyarakat Melayu.
Penutup kepala khas ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana adat, tetapi juga dipercaya mengandung makna filosofis yang dalam.
Budayawan Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, menjelaskan bahwa tanjak sejak lama dianggap sebagai simbol kemuliaan karena diletakkan di bagian tertinggi tubuh manusia, yakni kepala.
Dalam tradisi Melayu, kepala dipandang sebagai tempat yang dimuliakan, sehingga tanjak sering disebut sebagai “mahkota kain” bagi pemakainya.
Menurut Panji, kata “tanjak” sendiri berasal dari bahasa Melayu Palembang yang berarti “menanjak” atau “naik”. Makna ini tercermin dari bentuk tanjak yang menjulang ke atas menyerupai segitiga.
“Bentuk yang meninggi itu melambangkan perjalanan manusia menuju sesuatu yang lebih tinggi, bahkan secara filosofis mengarah pada hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Panji.
Sejarah mencatat, tanjak telah digunakan sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Kala itu, penutup kepala ini dikenakan oleh para bangsawan, pejabat kerajaan, dan tokoh masyarakat sebagai tanda kehormatan dan status sosial.
Walaupun kesultanan berakhir pada abad ke-19, tradisi penggunaan tanjak tidak pernah benar-benar hilang.
Hingga kini, tanjak masih digunakan dalam upacara adat, kegiatan budaya, hingga acara resmi sebagai simbol identitas Melayu Palembang.
Dalam tradisi lama, lipatan tanjak tidak dibuat sembarangan. Ada aturan atau “pakem” tertentu dalam melipatnya, mulai dari bentuk kain, susunan lipatan yang disebut grendet, hingga simpul yang berada di bagian samping.
Simpul pada tanjak memiliki makna simbolik yang kuat. Ikatan tersebut dipercaya melambangkan persatuan, hubungan keluarga, dan asal-usul seseorang.
“Setiap lipatan tanjak bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyimpan pesan budaya tentang jati diri orang Melayu,” ungkap Panji.
“Kini, tanjak Palembang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak 2019,” terangnya. (kms)






















