Jakarta, UpdateKini – Liburan ke Kepulauan Seribu selama ini identik dengan perjalanan menuju pelabuhan dan dilanjutkan menggunakan kapal. Namun, seiring rencana penguatan transportasi menuju wilayah kepulauan, perjalanan dari daratan Jakarta berpotensi semakin mudah karena dapat terhubung dengan jaringan kereta api.
Dua stasiun Commuter Line, yakni Stasiun Angke dan Stasiun Ancol, disebut dapat menjadi bagian dari rantai perjalanan masyarakat dari berbagai wilayah Jakarta menuju kawasan pesisir sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi laut.
Melansir siaran pers PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Senin (10/8/2026), penguatan layanan transportasi menuju Kepulauan Seribu mulai 2027 membuka peluang terbentuknya perjalanan antarmoda yang menghubungkan wilayah daratan dan kepulauan.
Rencana tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat layanan transportasi menuju dan dari Kepulauan Seribu. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa pengelolaan transportasi laut menuju dan dari Kepulauan Seribu akan dialihkan kepada PT Transportasi Jakarta agar perjalanan masyarakat semakin mudah dan efisien.
Dari KRL ke Pelabuhan
Dalam skema perjalanan antarmoda tersebut, kereta api memiliki peran membawa masyarakat dari berbagai wilayah menuju kawasan Jakarta Utara sebelum perjalanan dilanjutkan menggunakan transportasi perkotaan dan angkutan laut.
Salah satu aksesnya dapat melalui Stasiun Angke menuju Pelabuhan Kali Adem di Muara Angke.
Jarak antara Stasiun Angke dan Pelabuhan Kali Adem berada pada kisaran 7–8 kilometer. Dari stasiun, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi perkotaan menuju salah satu pintu utama penyeberangan ke Kepulauan Seribu.
Sementara itu, Stasiun Ancol berada sekitar 2–3 kilometer dari kawasan Marina Ancol. Kawasan tersebut juga menjadi salah satu titik keberangkatan perjalanan wisata laut menuju sejumlah pulau di Kepulauan Seribu.
Artinya, masyarakat memiliki alternatif perjalanan dengan mengombinasikan kereta api dan moda transportasi lanjutan sebelum menuju kawasan wisata bahari.
Jutaan Aktivitas Penumpang di Stasiun Angke
Potensi kedua stasiun tersebut sebagai bagian dari konektivitas menuju kawasan pesisir juga terlihat dari tingginya aktivitas pelanggan.
Sepanjang Januari–Juni 2026, Stasiun Angke mencatat 1.505.477 aktivitas gate in dan 1.584.099 gate out.
Jika digabungkan, total aktivitas pelanggan di Stasiun Angke mencapai 3.089.576 aktivitas hanya dalam enam bulan.
Aktivitas tersebut juga menunjukkan tren peningkatan. Pada 2024, Stasiun Angke mencatat 5.520.375 aktivitas gate in dan gate out. Angka tersebut meningkat menjadi 5.927.071 aktivitas pada 2025 atau naik sekitar 7,37 persen.
Sementara itu, Stasiun Ancol mencatat 295.180 gate in dan 255.109 gate out sepanjang Januari–Juni 2026. Totalnya mencapai 550.289 aktivitas pelanggan.
Angka tersebut setara sekitar 53,4 persen dari keseluruhan aktivitas pelanggan Stasiun Ancol sepanjang 2025 yang mencapai 1.030.402 aktivitas.
KRL Bisa Jadi Awal Perjalanan ke Pulau Wisata
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan penguatan transportasi menuju Kepulauan Seribu menunjukkan pentingnya keterhubungan antara kereta api, transportasi jalan dan angkutan laut.
“Kepulauan Seribu berada di wilayah Jakarta, tetapi karakter geografisnya membuat perjalanan masyarakat membutuhkan perpindahan moda. Kereta api dapat mengambil peran pada perjalanan dari berbagai wilayah menuju kawasan Jakarta, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan transportasi perkotaan menuju pelabuhan dan selanjutnya menggunakan angkutan laut,” ujar Anne.
Menurutnya, semakin banyak pilihan transportasi publik menuju titik penyeberangan, semakin luas pula masyarakat yang dapat menjangkau Kepulauan Seribu.
Bagi masyarakat Jabodetabek, konektivitas tersebut juga membuka peluang perjalanan wisata menggunakan transportasi publik tanpa harus selalu mengandalkan kendaraan pribadi.
Bukan Cuma Wisata
Penguatan konektivitas menuju Kepulauan Seribu tidak hanya berkaitan dengan sektor pariwisata.
Masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan membutuhkan akses yang lebih mudah menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan, perdagangan hingga tempat kerja di daratan Jakarta.
Sebaliknya, masyarakat dari daratan juga akan semakin mudah menjangkau wilayah kepulauan untuk berbagai keperluan.
Konektivitas yang lebih baik pada akhirnya dapat memperluas aktivitas ekonomi masyarakat lokal. Ketika wisatawan semakin mudah mencapai Kepulauan Seribu, sektor penginapan, kuliner, penyewaan kapal, pemandu wisata, perdagangan dan jasa transportasi lokal berpotensi ikut bergerak.
Kepulauan Seribu sendiri memiliki lebih dari 110 pulau dengan potensi wisata bahari yang cukup besar. Sejumlah destinasi seperti Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Pramuka dan Pulau Untung Jawa telah menjadi tujuan wisata masyarakat.
“Keindahan Kepulauan Seribu berada relatif dekat dari pusat aktivitas Jakarta. Tantangannya adalah bagaimana perjalanan menuju sana menjadi semakin mudah. Ketika kereta api, transportasi perkotaan, dan angkutan laut dapat saling terhubung dengan baik, masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan untuk bepergian dan potensi ekonomi masyarakat kepulauan juga semakin terbuka,” kata Anne.
Dengan konsep perjalanan antarmoda tersebut, perjalanan menuju Kepulauan Seribu nantinya tidak lagi harus dipandang sebagai perjalanan yang terpisah antara daratan dan laut.
Masyarakat dari berbagai wilayah Jabodetabek dapat memulai perjalanan dengan Commuter Line, melanjutkannya menuju kawasan pelabuhan, kemudian menyeberang menggunakan angkutan laut menuju pulau tujuan.
















