Scroll untuk baca artikel
PertanianTeknologi

UGM Kembangkan Pertanian Masa Depan, AI, Robotika hingga Mikroba Mulai Dipadukan

×

UGM Kembangkan Pertanian Masa Depan, AI, Robotika hingga Mikroba Mulai Dipadukan

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, Updatekini – Teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga mikroba kini mulai mendapat tempat dalam pengembangan pertanian masa depan. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan konsep Smart Eco Bioproduction yang memadukan teknologi digital dengan kekuatan biologis dan ekologis.

 

Melansir laman resmi UGM, Rabu (12/8/2026), konsep tersebut diarahkan untuk mendorong penerapan pertanian regeneratif, yakni sistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kemampuan ekosistem untuk memulihkan dirinya.

 

Dekan Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Jaka Widada mengatakan pengembangan Smart Eco Bioproduction telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir melalui pembelajaran, penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, serta pembangunan ekosistem pendukung di lingkungan Faperta UGM.

 

Menurut Jaka, gagasan tersebut telah dirancang sejak 2017 dan terus berkembang melalui proses pembelajaran, riset hingga implementasi.

 

Dalam pengembangannya, mahasiswa diperkenalkan dengan pendekatan yang menggabungkan sistem, biologi, ekologi, teknologi digital, mikrobioma, dan pertanian regeneratif.

 

Sementara dalam bidang penelitian, Faperta UGM mengarahkan riset pada sejumlah persoalan lintas disiplin, seperti kesehatan tanah, mikrobioma, interaksi tanaman dan mikroba, digital phenotyping, multi-omics, AI, hingga sistem produksi regeneratif.

 

Teknologi tersebut juga didorong agar tidak berhenti di lingkungan kampus. Melalui pengabdian kepada masyarakat, pengetahuan dan teknologi diarahkan untuk lebih dekat dengan petani melalui pendampingan, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kapasitas, serta pengembangan praktik pertanian regeneratif.

 

Pertanian Bukan Sekadar Mengejar Produksi

Jaka menilai pertanian seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sektor produksi pangan. Sistem pertanian juga perlu mampu menjaga keberlangsungan kehidupan dan lingkungan.

 

“Pertanian yang baik bukan hanya pertanian yang mampu memberi makan manusia, pertanian yang baik adalah pertanian yang juga mampu memberi kehidupan kepada bumi beserta isinya,” ujar Jaka.

 

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama Faperta UGM Prof. Dr. Subejo mengatakan persoalan pertanian tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin ilmu.

 

Karena itu, Faperta UGM mendorong pendekatan from disciplines to systems, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dari disiplin yang terpisah menuju ekosistem pengetahuan dan inovasi yang saling terhubung.

 

Pendekatan tersebut juga mendorong penelitian bergerak dari laboratorium menuju lapangan dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Sejumlah departemen di Faperta UGM kemudian mengambil peran dalam pengembangan pertanian regeneratif. Di antaranya Departemen Mikrobiologi Pertanian yang mengembangkan microbiome dan holobiont engineering, Departemen Budidaya Pertanian dengan regenerative cropping systems, serta Departemen Ilmu Tanah yang memperkuat konsep living soil dan regenerative soil.

 

Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan mengembangkan holobiont plant health. Sementara Departemen Sosial Ekonomi Pertanian diarahkan memastikan regenerasi ekologi berjalan bersama regenerasi ekonomi dan kesejahteraan petani.

 

Pendekatan regeneratif juga diperluas ke sektor perairan melalui pengembangan regenerative aquatic production oleh Departemen Perikanan.

 

Seluruhnya diperkuat dengan teknologi seperti AI, sensor dan Internet of Things (IoT), multi-omics, bioteknologi, digital phenotyping, pemodelan, serta data science.

 

Menurut Subejo, kombinasi tersebut membuat Smart Eco Bioproduction tidak sekadar menjadi program teknologi, tetapi menjadi ekosistem pengetahuan dan inovasi.

 

Konsep pertanian regeneratif yang dikembangkan Faperta UGM pun ditempatkan bukan hanya sebagai agenda teknologi, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab antargenerasi untuk menjaga tanah, air dan keanekaragaman hayati bagi masa depan.