Scroll untuk baca artikel
Teknologi

BRIN Siapkan NEO-1 untuk Perkuat Kemandirian Teknologi Antariksa

×

BRIN Siapkan NEO-1 untuk Perkuat Kemandirian Teknologi Antariksa

Sebarkan artikel ini

Bogor, UpdateKini – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus melanjutkan pengembangan teknologi satelit nasional melalui Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1). Satelit generasi keempat Indonesia ini ditargetkan meluncur pada awal 2027 dan diharapkan semakin memperkuat kemandirian teknologi antariksa nasional.

 

Melansir laman resmi BRIN, Sabtu (15/8/2026), pengembangan NEO-1 dilakukan BRIN melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA). Saat ini, NEO-1 telah memasuki tahap pengujian dan integrasi sebagai bagian dari persiapan sebelum peluncuran.

 

Informasi mengenai perkembangan satelit tersebut disampaikan Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, saat menerima kunjungan siswa SMPIT Leuwiliang di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, Rabu (12/8/2026).

 

Salma menjelaskan, pengembangan NEO-1 merupakan kelanjutan dari perjalanan Indonesia dalam membangun satelit nasional. Sebelumnya, Indonesia telah berhasil meluncurkan tiga satelit nasional, yakni LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB.

 

Ketiga satelit tersebut dikembangkan dengan misi yang berbeda dan menjadi bagian penting dalam perjalanan penguasaan teknologi satelit Indonesia.

 

Perjalanan Tiga Satelit Nasional

LAPAN-A1 merupakan satelit eksperimental generasi pertama yang dikembangkan oleh periset Indonesia bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin. Proses rancang bangun satelit dilakukan di Jerman.

 

Satelit yang memiliki orbit polar tersebut menjalankan misi utama observasi Bumi dan melintasi wilayah Indonesia sekitar empat hingga enam kali setiap hari.

 

“LAPAN-A1 diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007. Meski diperkirakan hanya beroperasi selama dua hingga tiga tahun, satelit tersebut hingga kini masih dapat menerima perintah dari operator, meskipun muatan kameranya sudah tidak berfungsi,” ujar Salma.

 

Menurut dia, kondisi tersebut membuat LAPAN-A1 telah melampaui usia operasional yang sebelumnya diperkirakan.

 

“Satelit ini telah melampaui usia operasional yang diprediksi dan masih dapat menerima perintah meski tidak lagi menjalankan misi utama,” lanjutnya.

 

Setelah LAPAN-A1, Indonesia mengembangkan LAPAN-A2/LAPAN-ORARI sebagai satelit eksperimental generasi kedua. Satelit tersebut dikembangkan periset Indonesia bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

 

Berbeda dengan LAPAN-A1 yang proses rancang bangunnya dilakukan di luar negeri, LAPAN-A2 sepenuhnya dirancang dan dibangun di dalam negeri.

 

Satelit LAPAN-A2 diluncurkan menggunakan roket PSLV C30 pada 28 September 2015 dan hingga kini masih beroperasi dengan baik.

 

LAPAN-A2 membawa sejumlah misi, mulai dari observasi Bumi menggunakan kamera spacecam, mitigasi bencana melalui muatan voice repeater (VR) dan automatic packet reporting system (APRS), hingga pemantauan kapal menggunakan automatic identification system (AIS).

 

Misi komunikasi yang dibawa LAPAN-A2 juga melibatkan anggota ORARI yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

Selanjutnya, Indonesia mengembangkan LAPAN-A3/LAPAN-IPB melalui kerja sama periset Indonesia dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

 

LAPAN-A3 diluncurkan menggunakan roket PSLV C34 pada 22 Juni 2016 dan hingga kini masih berfungsi.

 

Menurut Salma, LAPAN-A3 memiliki misi AIS yang serupa dengan LAPAN-A2, tetapi dengan cakupan data yang lebih luas hingga skala global.

 

Satelit tersebut juga dilengkapi sejumlah instrumen untuk mendukung observasi dan pemantauan Bumi.

 

“LAPAN-A3 memiliki misi AIS serupa dengan LAPAN-A2, tetapi dengan cakupan data yang lebih luas hingga skala global,” jelas Salma.

 

Selain AIS, LAPAN-A3 dilengkapi kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam untuk observasi Bumi, serta magnetometer untuk memantau medan magnet Bumi.

 

Dikendalikan dari Sejumlah Stasiun Bumi

Ketiga satelit nasional tersebut dikendalikan melalui sejumlah stasiun bumi milik BRIN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

Stasiun bumi tersebut berada di Rancabungur, Bogor; Kototabang, Sumatera Barat; Parepare, Sulawesi Selatan; dan Biak, Papua.

 

Keberadaan stasiun bumi tersebut menjadi bagian penting dalam pengoperasian dan pengendalian satelit nasional yang berada di orbit.

 

NEO-1 Jadi Generasi Berikutnya

Setelah berhasil mengembangkan tiga satelit sebelumnya, BRIN kini melanjutkan pengembangan satelit generasi keempat melalui NEO-1.

 

“Satelit terbaru yang saat ini sedang dikembangkan adalah NEO-1. Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi,” kata Salma.

 

NEO-1 memiliki misi utama observasi Bumi dengan menyediakan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah.

 

Data tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, tidak hanya dalam bidang antariksa, tetapi juga mendukung sektor pembangunan di Indonesia.

 

“Satelit NEO-1 memiliki misi utama observasi Bumi melalui penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah,” jelas Salma.

 

Pemanfaatan data dari NEO-1 antara lain untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, serta pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS atau Automatic Identification System.

 

“Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, serta pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS (Automatic Identification System),” ungkapnya.

 

Pengembangan NEO-1 menjadi bagian dari upaya BRIN untuk memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional.

 

Tidak hanya mengejar kemampuan untuk membangun satelit, pengembangan tersebut juga diarahkan agar data penginderaan jauh yang dihasilkan dapat semakin banyak dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan di berbagai sektor.

 

Dengan demikian, perjalanan satelit nasional Indonesia terus berlanjut. Setelah LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3, NEO-1 dipersiapkan menjadi generasi berikutnya yang membawa misi lebih luas dalam mengamati kondisi Bumi dan menyediakan data yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.

 

BRIN menargetkan NEO-1 dapat meluncur pada awal 2027. Saat ini, satelit tersebut masih menjalani tahapan pengujian dan integrasi sebelum memasuki tahap berikutnya menuju peluncuran.