Jakarta, UpdateKini – Novel Lamauri karya Fince Bataona tidak hanya mengisahkan kehidupan masyarakat Lamalera dan tradisi pesisir di Nusa Tenggara Timur. Karya sastra tersebut juga menghadirkan refleksi tentang posisi perempuan, relasi sosial, serta perjuangan menghadapi stigma di tengah perubahan kebudayaan.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Forum Diskusi MLTL #40 bertajuk Dari Tradisi Menjadi Fiksi: Perbincangan Novel Lamauri Karya Fince Bataona yang digelar pada Rabu (26/8).
Melansir laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, mengatakan sastra memiliki ruang imajinasi dan perspektif yang memungkinkan sebuah fenomena dilihat lebih luas dibandingkan semata-mata melalui data penelitian ilmiah.
Menurut Herry, pembahasan Lamauri menjadi titik temu antara perspektif sastra dengan berbagai riset mengenai kehidupan masyarakat pesisir serta pengetahuan lokal di Nusa Tenggara Timur.
“Perspektif etnografi akan terasa lebih kaya ketika kita mampu melihat bahwa satu domain kehidupan saling berkaitan erat dengan kehidupan lainnya,” ujar Herry.
Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) BRIN, Sastri Sunarti, menambahkan bahwa pemilihan novel Lamauri memiliki keterkaitan dengan pengalaman riset lapangan tim BRIN di Lamalera pada 2023.
Menurut Sastri, sejumlah realitas yang ditemukan peneliti di lapangan memiliki titik temu dengan narasi yang dibangun dalam novel tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa Lamauri tetap merupakan karya fiksi sehingga tidak seluruh elemennya dapat diperlakukan sebagai gambaran realitas secara mentah.
Ia melihat novel tersebut sebagai bentuk “modalitas budaya” yang dituangkan pengarang melalui karya sastra.
Perempuan dan Perjuangan Merebut Martabat
Pakar Teori Sastra Universitas Sanata Dharma, Yoseph Yapi Taum, menilai Lamauri memiliki keterkaitan erat dengan novel Fince Bataona sebelumnya, Lamafa. Keduanya bahkan dinilai dapat dibaca sebagai sebuah dwilogi karena memiliki kesinambungan alur dan tokoh.
Jika Lamafa lebih banyak mengulas kehidupan masyarakat Lamalera dalam tradisi penangkapan ikan paus, Lamauri membawa pembaca masuk lebih jauh ke dalam pergulatan batin perempuan melalui tokoh Ina.
Dalam novel tersebut, istilah Lamauri digunakan sebagai metafora mengenai posisi dan peran perempuan. Perempuan tidak hanya ditempatkan dalam ruang domestik, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan arah kehidupan masyarakat.
“Lamauri adalah metafora untuk menegaskan posisi perempuan. Ia tidak sekadar juru mudi dalam rumah tangga, tetapi juga navigasi peradaban Lamalera secara umum,” jelas Yapi.
Melalui tiga tokoh perempuan dengan dinamika kehidupan yang berbeda, novel ini menggambarkan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, termasuk perjuangan Ina ketika berhadapan dengan stigma sosial.
Bagi Yapi, persoalan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan upaya seseorang untuk merebut kembali identitas dan memulihkan martabat kemanusiaan.
Perempuan Menjadi Penjaga Keberlanjutan Tradisi
Fince Bataona mengatakan proses kreatif Lamauri berangkat dari perhatiannya terhadap dinamika masyarakat Lamalera, terutama ketika isu konservasi maritim semakin mengemuka.
Sebagai putra daerah Lamalera sekaligus berlatar belakang jurnalis, Fince terdorong menghadirkan sisi kehidupan masyarakat yang menurutnya perlu dipahami secara lebih utuh.
Ia juga menekankan pentingnya melihat posisi perempuan dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat Lamalera.
Menurut Fince, perempuan sering kali tidak terlihat berada di garis depan, tetapi justru memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan masyarakat.
“Peran perempuan sering kali dianggap tidak ada, padahal justru paling utama. Penjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan itu ada pada perempuan,” ungkapnya.
Sementara itu, Budayawan dan Pater dari Lamalera, Pater Mikhael Molan Keraf, melihat Lamauri tidak hanya sebagai metafora tentang posisi perempuan, tetapi juga sebagai gambaran mengenai siapa yang memegang kendali atas arah kebudayaan Lamalera.
Menurutnya, masyarakat Lamalera menghadapi berbagai perubahan yang datang dari modernitas, ekonomi, iman, relasi kuasa hingga pergantian generasi.
“Lamauri bukan semata-mata metafora posisi belakang atau depan, melainkan metafora tanggung jawab atas arah kebudayaan masyarakat yang terus berubah,” tegas Pater.
Ia menilai kebudayaan merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak seharusnya hanya dibekukan sebagai kenangan masa lalu. Perubahan dapat terjadi pada bentuk kebudayaan, tetapi nilai-nilai yang menjaga martabat masyarakat tetap perlu dipertahankan.
“Tradisi bukan jangkar yang menahan kita pada masa lalu, melainkan kompas yang menuntun arah perubahan,” tambahnya.
Melalui Forum Diskusi MLTL #40, novel Lamauri akhirnya tidak hanya dibicarakan sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk melihat persoalan perempuan, stigma sosial, tradisi, lingkungan, relasi sosial dan keberlanjutan identitas budaya masyarakat Lamalera.

















