Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Intervensi Edukasi Pencegahan KLB Campak dan Digitalisasi Monitoring Imunisasi: Tim Pengabdian Unsri Latih 23 Kader Posyandu di Tanjung Lago

×

Intervensi Edukasi Pencegahan KLB Campak dan Digitalisasi Monitoring Imunisasi: Tim Pengabdian Unsri Latih 23 Kader Posyandu di Tanjung Lago

Sebarkan artikel ini

Tanjung Lago, Banyuasin – Tim Pengabdian Berbasis Wilayah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya menggelar kegiatan edukasi pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak sekaligus pelatihan Sistem Monitoring Imunisasi Digital (SiMIDS) di UPTD Puskesmas Tanjung Lago, KTM Telang, Kabupaten Banyuasin, hari ini, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama sekitar dua jam ini dihadiri oleh 23 kader Posyandu dari wilayah kerja Puskesmas Tanjung Lago.
Kegiatan bertajuk “Intervensi Edukasi dan Digitalisasi Monitoring Imunisasi untuk Pencegahan KLB Campak di KTM Telang” ini merupakan bagian dari skema Pengabdian Berbasis Wilayah 2026 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya, dengan Yusri, S.K.M., M.K.M. sebagai ketua tim pengabdian.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Puskesmas Tanjung Lago, dr. Yulesi, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Universitas Sriwijaya dan Puskesmas Tanjung Lago dalam upaya memperkuat surveilans dan pencegahan penyakit campak di wilayah tersebut.

Edukasi Pencegahan Campak

Sesi pertama diisi dengan pemaparan materi “Pencegahan KLB Campak dan Pentingnya Imunisasi MR” yang disampaikan langsung oleh Yusri, S.K.M., M.K.M. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa campak (morbili) adalah penyakit infeksi akut yang sangat menular dan berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, otitis media, hingga ensefalitis apabila tidak ditangani dengan tepat.

Yusri juga memaparkan batasan epidemiologis KLB Campak, langkah-langkah kewaspadaan dini seperti investigasi kasus dan pengambilan spesimen, serta strategi imunisasi selektif maupun massal sesuai cakupan imunisasi di suatu wilayah.

Ia menekankan pentingnya imunisasi MR (Measles-Rubella) dua dosis – pada usia 9–11 bulan dan 18–24 bulan – sebagai perlindungan utama untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) di atas 95 persen.

Sesi ini dilengkapi dengan pemutaran video animasi edukasi campak serta pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta.

Pelatihan Sistem Monitoring Imunisasi Digital (SiMIDS)

Memasuki sesi kedua, materi dan demonstrasi Sistem Monitoring Imunisasi Digital (SiMIDS) disampaikan oleh Farida Kumalasari, S.K.M., M.K.M. SiMIDS dikembangkan sebagai sistem pendukung manajemen program imunisasi yang tidak hanya mencatat data, tetapi juga mengolah data menjadi informasi untuk menemukan sasaran yang belum terlindungi, menentukan prioritas intervensi, serta mendukung pelacakan dan tindak lanjut di tingkat wilayah — melengkapi peran sistem pencatatan individu seperti ASIK yang telah digunakan sebelumnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta yang terdiri dari kader Posyandu dan petugas Puskesmas diajak mempraktikkan langsung sejumlah fitur utama SiMIDS, di antaranya:

  • Individual Immunization Registry — pencatatan identitas dan riwayat imunisasi anak secara individual.
  • Immunization Status Checker — penentuan status imunisasi anak secara otomatis (lengkap, belum lengkap, terlambat, drop-out, atau zero-dose).
  • Defaulter Tracking System — daftar anak yang terlambat atau belum kembali sesuai jadwal imunisasi.
  • Priority Intervention Dashboard — daftar wilayah dan sasaran prioritas untuk tindak lanjut petugas.
  • Mode Offline — kader tetap dapat mencatat imunisasi meski sinyal internet lemah atau kuota data habis; data tersimpan otomatis di perangkat dan tersinkron ke database begitu koneksi tersedia kembali.
  • Notifikasi Pop-up & Pengingat — sistem mengirimkan pemberitahuan otomatis kepada kader mengenai anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, sehingga tindak lanjut dapat segera dilakukan.

SiMIDS diposisikan sebagai sistem pendukung monitoring imunisasi yang digunakan secara khusus di UPTD Puskesmas Tanjung Lago, tanpa mengabaikan ASIK yang telah digunakan secara nasional. Kehadiran SiMIDS diharapkan dapat membantu Puskesmas dalam pengelolaan data imunisasi yang lebih rapi serta mendukung pencapaian target cakupan imunisasi di wilayah kerjanya.

Salah satu keunggulan utama SiMIDS adalah kemampuannya bekerja secara offline. Fitur ini menjawab kendala yang kerap dihadapi kader Posyandu di lapangan, seperti sinyal internet yang lemah atau kehabisan kuota data. Saat kondisi offline, seluruh data imunisasi yang dicatat kader tetap tersimpan aman di perangkat dan otomatis tersinkron ke database pusat begitu koneksi internet kembali tersedia, sehingga proses pencatatan tidak perlu terhenti. Selain itu, SiMIDS juga dilengkapi notifikasi pop-up otomatis yang mengingatkan kader mengenai anak-anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, sehingga tindak lanjut ke sasaran dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Hingga saat pelatihan berlangsung, sistem SiMIDS tercatat telah memuat 2.057 data anak dengan 25.163 riwayat imunisasi. Sistem ini dirancang dengan empat peran pengguna berbeda — kader, bidan desa, petugas Puskesmas, dan administrator — sehingga alur data mulai dari pencatatan di lapangan hingga verifikasi dan pemantauan oleh Puskesmas dapat berjalan secara terstruktur.

Peserta juga mengikuti sesi post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah pelatihan, dilanjutkan dengan sesi diskusi, tanya jawab, dan kuis berhadiah yang berlangsung interaktif. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, tim pengabdian, dan jajaran Puskesmas Tanjung Lago.

Kader Posyandu dan petugas Puskesmas mengikuti pelatihan penggunaan SiMIDS.

Harapan Keberlanjutan Program

Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap para kader Posyandu dan petugas Puskesmas Tanjung Lago semakin siap menggunakan SiMIDS sebagai alat bantu pemantauan imunisasi berbasis data, sehingga upaya deteksi dini dan pencegahan KLB Campak di wilayah KTM Telang dapat berjalan lebih optimal. Rencana implementasi disarankan dimulai secara bertahap dari satu hingga dua desa atau Posyandu terlebih dahulu sebelum diperluas ke wilayah kerja Puskesmas Tanjung Lago secara keseluruhan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Berbasis Wilayah 2026 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya. (***)