Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Usia Muda Kena Stroke Iskemik Makin Banyak, Ini Faktor Risikonya

×

Usia Muda Kena Stroke Iskemik Makin Banyak, Ini Faktor Risikonya

Sebarkan artikel ini

Jakarta, UpdateKini – Kasus stroke kini tidak lagi hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia. Dokter Spesialis Neurologi Prof. Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.S, M.Kes, mengungkapkan adanya tren peningkatan kasus stroke pada usia yang lebih muda, termasuk stroke iskemik pada pasien berusia di bawah 40 tahun.

 

Prof. Rizaldy mengatakan, rata-rata pasien stroke yang ditemui dalam praktik masih berada pada usia di atas 60 tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pasien dengan usia jauh lebih muda mulai semakin sering ditemukan.

 

Ia bahkan pernah menangani pasien berusia 32 tahun yang mengalami stroke iskemik.

 

Menurutnya, kondisi tersebut cukup menarik karena stroke pada usia muda sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan stroke hemoragik atau perdarahan akibat kelainan pembuluh darah.

 

“Sekarang ini di bawah 40 yang iskemik lumayan banyak,” ujar Prof. Rizaldy dalam podcast yang ditayangkan melalui kanal YouTube @FKKMKUGMOffical dan @TirtaPengPengPeng, Senin (24/8/2026).

 

Prof. Rizaldy menjelaskan, meningkatnya stroke pada usia muda tidak bisa dikaitkan hanya dengan satu penyebab. Stroke merupakan penyakit yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk faktor genetik dan pola hidup.

 

Namun, ia menyebut terdapat dua kata kunci yang banyak dibahas dalam penelitian terkait perubahan pola penyakit tersebut, yakni westernisasi dan urbanisasi.

 

Westernisasi terlihat dari perubahan pola makan masyarakat yang semakin banyak mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food, makanan tinggi garam, lemak, serta gula.

 

Sementara itu, urbanisasi turut mengubah pola hidup masyarakat. Aktivitas yang dahulu cenderung lebih santai kini berubah menjadi lebih cepat dan penuh tekanan akibat mobilitas, kemacetan, serta tuntutan aktivitas sehari-hari.

 

“Bukan hanya asosiatif tapi kausalitas sudah agak susah karena stroke itu sifatnya poligenik. Stroke itu pasti ada faktor genotipe, ada faktor pola hidup,” jelasnya.

 

Selain pola makan dan gaya hidup, paparan rokok sejak usia muda juga menjadi perhatian. Menurut Prof. Rizaldy, anak-anak dan remaja kini dapat terpapar rokok pada usia yang relatif lebih dini, sehingga faktor tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah di kemudian hari.

 

Begadang dan Kurang Tidur Juga Perlu Diwaspadai

Dalam wawancara tersebut, Prof. Rizaldy juga menyoroti kebiasaan tidur yang buruk. Ia mengatakan sejumlah penelitian mengenai sleep deprivation menunjukkan bahwa kurang tidur tidak baik bagi kesehatan otak dan dapat meningkatkan risiko stroke.

 

Menurutnya, tubuh memiliki mekanisme biologis yang mengatur kapan seseorang harus beristirahat. Ketika seseorang terus-menerus mengganggu pola tidur dan tidak mendapatkan tidur yang cukup serta berkualitas, proses pemulihan tubuh dapat terganggu.

 

Bagi orang yang bekerja dengan sistem shift atau memiliki kondisi tertentu yang membuat waktu tidurnya terbalik, ia menyarankan agar waktu istirahat yang tersedia tetap dimanfaatkan secara optimal.

 

“Pada waktu dia punya kesempatan untuk istirahat, dia harus istirahat dalam porsi yang cukup dan harus dalam,” katanya.

 

Kualitas tidur, lanjutnya, tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang berada di tempat tidur. Salah satu tanda sederhana yang dapat diperhatikan adalah kondisi tubuh ketika bangun.

 

Jika setelah tidur seseorang tetap merasa tidak segar atau mudah mengantuk bahkan ketika sedang melakukan aktivitas, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa kualitas tidurnya tidak baik.

 

Prof. Rizaldy mencontohkan kondisi ketika seseorang mudah tertidur saat sedang beraktivitas, termasuk ketika mengemudi. Rasa kantuk berlebihan pada siang hari atau daytime sleepiness dapat menjadi salah satu tanda tidur malam tidak berkualitas.

 

Namun, kebutuhan tidur setiap orang dapat berbeda. Ada orang yang secara alami membutuhkan waktu tidur lebih singkat tetapi tetap dapat beraktivitas dengan baik karena mendapatkan tidur yang berkualitas.

 

Terkait kebiasaan tidur siang, Prof. Rizaldy mengatakan pada prinsipnya tidak menjadi masalah selama kebutuhan istirahat dalam satu hari tetap terpenuhi.

 

Yang terpenting bukan sekadar membagi waktu tidur antara malam dan siang, tetapi memastikan tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan berkualitas.