Cibinong, UpdateKini – Selama ini kecipir lebih dikenal sebagai salah satu sayuran yang mudah ditemukan di Indonesia. Namun, tanaman tersebut ternyata menyimpan potensi lain. Biji kecipir kini dilirik sebagai bahan baku pakan ikan karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.
Dalam sebuah penelitian, pakan berbasis biji kecipir yang dipadukan dengan teknologi enzim menunjukkan hasil menjanjikan terhadap pertumbuhan ikan gurami. Setelah diuji selama 60 hari, bobot akhir ikan disebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok kontrol.
Melansir laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Selasa (11/8), inovasi tersebut dipaparkan Peneliti Kelompok Riset Nutrisi Hewan, Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Deisi Heptarina, dalam forum diseminasi ilmiah Zoopedia #21 di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Bogor, Rabu (6/8).
Menurut Deisi, persoalan pakan menjadi salah satu tantangan strategis dalam industri akuakultur. Biaya pakan bahkan dapat mencapai sekitar 60–91 persen dari total biaya produksi budidaya ikan.
Di sisi lain, industri pakan nasional masih bergantung pada bahan baku impor, salah satunya bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati. Kondisi ini membuat industri akuakultur rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok, pandemi hingga konflik geopolitik.
Biji Kecipir Kaya Protein
BRIN kemudian melihat peluang dari biji kecipir yang relatif mudah dibudidayakan, memiliki produktivitas tinggi dan toleran terhadap lahan kering.
Biji kecipir diketahui memiliki kandungan protein sekitar 34–40 persen. Selain itu, bahan tersebut mengandung sejumlah asam amino esensial, termasuk lisin, leusin, aspartat dan glutamat.
Menariknya, kandungan lisin pada biji kecipir disebut lebih tinggi dibandingkan bungkil kedelai sehingga berpotensi menjadi sumber protein lokal yang kompetitif.
Namun, kecipir juga memiliki tantangan. Biji tanaman ini mengandung senyawa antinutrien seperti HCN, asam fitat, tanin dan serat kasar yang dapat menghambat penyerapan nutrisi oleh ikan.
Untuk mengatasinya, peneliti BRIN mengembangkan sejumlah tahapan pengolahan, mulai dari penggilingan, perendaman, pengurangan kadar minyak hingga penambahan enzim Non-starch Polysaccharides (NSP).
Enzim yang digunakan merupakan kombinasi endo-1,4-beta-xylanase, endo-1,4-beta-glucanase, fitase dan protease. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu memecah senyawa antinutrien sehingga nutrisi dalam biji kecipir lebih mudah dimanfaatkan ikan.
Pertumbuhan Gurami Hampir Dua Kali Lipat
Riset kemudian dilakukan menggunakan benih ikan gurami selama 60 hari dengan tiga perlakuan.
Peneliti mengamati berbagai parameter, mulai dari kecernaan nutrien, aktivitas enzim pencernaan, kondisi histologi organ pencernaan, pertumbuhan, efisiensi pakan hingga tingkat kelangsungan hidup ikan.
Hasilnya cukup menjanjikan. Seluruh perlakuan mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup hingga 100 persen.
Formulasi pakan berbasis biji kecipir yang dipadukan dengan teknologi enzim menunjukkan kinerja pertumbuhan terbaik. Bobot akhir ikan meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kontrol.
Tidak hanya itu, laju pertumbuhan spesifik juga meningkat. Rasio konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) membaik secara signifikan, sementara retensi protein turut meningkat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahan baku lokal seperti biji kecipir memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi substitusi bahan impor, tetapi juga bagian dari strategi membangun kemandirian industri pakan nasional.
Deisi menekankan bahwa hasil penelitian tersebut masih merupakan langkah awal. Agar inovasi dapat memberikan dampak nyata bagi pembudidaya, diperlukan kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, industri, penyuluh dan pembudidaya ikan.
“Kemandirian pakan dimulai dari riset, tetapi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi,” kata Deisi.
Melalui pengembangan bahan baku lokal seperti biji kecipir, BRIN mendorong pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia menjadi inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat industri akuakultur nasional.
















