Scroll untuk baca artikel
PendidikanSeni dan Budaya

Dompu Awang dan Cermin Kehidupan Bening

×

Dompu Awang dan Cermin Kehidupan Bening

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Ada sebabnya Telaga Bening Deslaya memilih kisah Dompu Awang untuk dibawakan di ajang Pertunjukan Cerita Rakyat Indonesia 2026. Cerita yang mengajarkan untuk menghormati orang tua dan tidak melupakan asal‑usul itu rasanya sangat dekat dengan perjalanan hidupnya sendiri.

 

Lewat penampilannya, siswi kelas X di SMLB YPAC Palembang itu akhirnya meraih Penghargaan Apresiasi Inklusi dalam ajang yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Lebih dari sekadar piala atau piagam, kisah yang ia bawakan seolah menjadi cermin bagi apa yang sudah lama hidup di dalam dirinya, yaitu rasa sayang pada cerita, dukungan keluarga yang tak putus, serta keberanian melangkah dengan caranya sendiri.

 

Di rumah yang rak‑raknya penuh berisi buku cerita, Bening tumbuh dan besar meski jalannya berbeda dibanding anak‑anak lain. Ia tak pernah mendengar suara ayahnya saat sedang membacakan dongeng. Namun justru dari rumah itulah rasa suka dan cintanya pada dunia bercerita perlahan tumbuh makin kuat.

 

Ayahnya memang sudah lama dikenal aktif di dunia bacaan dan kesenian sebagai pendongeng. Sejak masih kecil, Bening sudah terbiasa melihat langsung ayahnya sedang mendongeng, ikut serta dalam berbagai kegiatan bacaan, sampai berjam‑jam duduk membalik halaman demi halaman buku yang tersusun di sekeliling rumah mereka.

 

“Memang ia tak bisa mendengar suara saat saya bercerita, tapi saya yakin ia tetap menangkap isi kisah itu lewat raut wajah, gerakan tangan dan badan, gambar yang dilihatnya, serta suasana hangat yang terbentuk saat kami sedang bercerita,” kata sang ayah.

 

Karena sudah akrab dengan buku dan dunia kisah sejak kecil, perlahan Bening makin menyukai dongeng maupun cerita rakyat. Meski tak bisa mendengar, ia menemukan caranya sendiri untuk paham jalan cerita, mengenali watak tokoh, bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalam kisah itu.

 

Ketika ada kesempatan mendaftar ke ajang Pertunjukan Cerita Rakyat Indonesia 2026, Bening langsung memilih kisah Dompu Awang. Cerita itu memang terkenal mengandung pesan yang dalam yakni kita wajib menghormati orang tua, menjaga erat tali persaudaraan, serta jangan sampai melupakan dari mana kita berasal.

 

Pilihannya ternyata bukan sekadar soal cerita yang ingin ia sampaikan kepada penonton. Kisah itu ternyata juga menggambarkan perjalanan hidupnya sendiri.

 

Sama seperti pesan dalam kisah Dompu Awang yang mengingatkan betapa berharganya keluarga, perjalanan Bening sampai bisa meraih penghargaan itu pun tak lepas dari dukungan orang‑orang terdekat. Ada keluarga yang selalu ada di sisinya, guru yang sabar membimbing, serta teman‑teman yang tak henti memberi semangat dari awal latihan sampai hari penampilan.

 

Supaya bisa tampil sebaik mungkin di ajang tingkat nasional itu, Bening harus berlatih berulang‑ulang kali. Ia belajar menyusun alur cerita, melatih raut wajah agar pas dengan suasana kisah, hingga menghidupkan watak tokoh dengan gayanya sendiri. Butuh kesabaran luar biasa dan ketekunan yang tak main‑main, namun ia menjalaninya dengan sungguh‑sungguh dan hati senang.

 

Di balik rekaman video yang akhirnya dikirimkan kepada panitia, tersimpan ratusan kali latihan, kerja keras, serta harapan yang terus dipupuk. Hari‑hari menunggu kabar pun dilewati dengan rasa penasaran dan doa yang tak putus.

 

Hingga akhirnya kabar yang ditunggu itu pun datang. Bening dinyatakan berhak menerima Penghargaan Apresiasi Inklusi dalam ajang Pertunjukan Cerita Rakyat Indonesia 2026.

 

Bagi seluruh keluarganya, penghargaan itu bukan sekadar tanda bahwa penampilan Bening bagus. Penghargaan itu sekaligus menjadi bukti nyata bahwa dunia bacaan dan kebudayaan terbuka untuk semua anak, tak terkecuali anak yang memiliki keterbatasan pendengaran seperti dirinya.

 

Lebih dari itu, keberhasilan Bening menyampaikan pesan yang indah bahwa cerita tak selamanya harus disampaikan lewat suara. Cerita pun bisa hidup dan sampai ke hati lewat gerak tangan, raut wajah, gerak tubuh, serta ketulusan saat menyampaikan makna kisah itu.

 

Perjalanan yang ditempuh Bening juga menjadi pengingat: rasa suka membaca dan bercerita itu paling sering tumbuh dari lingkungan terdekat. Bermula dari kebiasaan sederhana melihat orang tua gemar membaca, melihat langsung kegiatan bercerita di dalam rumah, sampai merasa bahwa buku memang bagian dari keseharian mereka.

 

Kisah Dompu Awang bukan sekadar cerita yang dibawakannya di panggung nasional. Kisah itu persis seperti cermin yang memantulkan perjalanan hidupnya sendiri, tentang keluarga yang tak pernah menjauh, tentang asal‑usul yang selalu dijaga, serta tentang seorang anak yang terus melangkah maju tanpa pernah melupakan tempat pertama kali ia belajar jatuh cinta pada dunia cerita.

 

Di balik penghargaan yang kini disimpannya, ada senyum lebar seorang anak yang merasa semua usahanya ternyata dihargai. Dan di balik senyum itu pula, tersimpan harapan besar bahwa makin banyak anak Tuli di seluruh Indonesia yang nantinya berani bermimpi, berani berkarya, serta berani mencari tempat mereka sendiri di dunia bacaan dan kebudayaan.