Lampung, UpdateKini – Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan inovasi Smart Apiary Protection System (SAPS), sebuah sistem monitoring dan peringatan dini berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu peternak lebah trigona menghadapi ancaman serangan beruang madu.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB yang dipimpin Dr. Saladin Uttunggadewa. Pada 24–26 Juli 2026, tim menyerahkan sekaligus memasang SAPS kepada dua Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan di Provinsi Lampung, yakni KTH Lantana di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, serta KTH Apicalis di Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat.
Mengutip laman resmi ITB, Senin (27/7), SAPS dikembangkan untuk menjawab persoalan yang sering dihadapi peternak lebah trigona di Lampung, yaitu gangguan beruang madu (Helarctos malayanus) terhadap stup atau kotak budidaya lebah.
Serangan tersebut dapat menyebabkan kerusakan stup, hilangnya koloni lebah, hingga menurunkan hasil panen madu. Kondisi ini tidak hanya berdampak terhadap ekonomi peternak, tetapi juga berpotensi meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar (human-wildlife conflict).
SAPS bekerja dengan memanfaatkan sensor gerak dan modul komunikasi untuk mendeteksi keberadaan satwa liar di sekitar area peternakan. Ketika terjadi indikasi gangguan, sistem akan mengirimkan notifikasi secara real time kepada peternak.
Selain memberikan peringatan, teknologi ini juga dilengkapi mekanisme pengusiran non-mematikan berupa perangkat suara dan cahaya berpola acak. Sistem tersebut dirancang untuk mencegah satwa terbiasa terhadap rangsangan sehingga dapat mengurangi risiko serangan berulang.
Teknologi ini dikembangkan sebagai solusi tepat guna yang sederhana, hemat energi, serta mudah dioperasikan dan dirawat oleh peternak di wilayah pedesaan.
Pengembangan SAPS merupakan kelanjutan dari program pendampingan multitahun yang dilakukan tim ITB sejak 2022 hingga 2026. Sebelumnya, tim telah menghadirkan sejumlah inovasi untuk mendukung komunitas peternak lebah trigona, seperti Tracebee, sistem informasi dan traceability digital untuk pencatatan produksi dan pemasaran; Tracebee Purifier, perangkat pengolahan pascapanen madu; serta sistem IoT untuk pencatatan kondisi cuaca peternakan.
Berdasarkan evaluasi lapangan, tantangan utama yang kini dihadapi mitra bukan lagi hanya terkait kualitas produk dan pemasaran, tetapi juga perlindungan aset usaha akibat gangguan satwa liar. Karena itu, pengembangan berikutnya diarahkan pada sistem perlindungan peternakan melalui SAPS.
Dengan hadirnya teknologi tersebut, ITB berharap peternak lebah trigona di KTH Lantana dan KTH Apicalis dapat mengurangi kerugian akibat serangan beruang madu sekaligus menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi masyarakat dan pelestarian satwa liar.
Selain budidaya lebah trigona, KTH Lantana di Kabupaten Tanggamus juga tengah mengembangkan pengolahan hasil kebun kakao menjadi produk bernilai tambah seperti pasta kakao dan permen cokelat. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan Desa Wisata Sidomulyo.
Melalui kolaborasi antara ITB, kelompok tani, masyarakat, dan mitra usaha, SAPS diharapkan menjadi model penerapan teknologi cerdas untuk mendukung budidaya lebah berkelanjutan sekaligus mengurangi konflik manusia dengan satwa liar.

















