Scroll untuk baca artikel
OpiniSeni dan Budaya

Ketika Identitas Lokal Kembali ke Jantung Kota Palembang

×

Ketika Identitas Lokal Kembali ke Jantung Kota Palembang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Kemas A. R. Panji, M.Si

Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Palembang

 

Ruang Kota dan Ingatan Warga

Selama bertahun tahun, ketika identitas lokal Palembang tidak pernah benar benar hadir secara tegas di ruang publik utamanya. Kawasan Bundaran Air Mancur Masjid Agung kerap diperlakukan sebagai panggung simbolik yang berganti rupa, lebih mengikuti momentum pembangunan dan selera zamannya daripada kerangka nilai yang berakar. Dalam konteks itu, kehadiran Tugu Cempako Telok patut dibaca sebagai penanda perubahan arah, identitas lokal kembali ditempatkan sebagai dasar pemaknaan sejarah dan kebudayaan Palembang di pusat kota.

Kawasan ini, perlu ditegaskan, sejak awal bukan sekadar persimpangan lalu lintas. Ia adalah ruang kota dengan fungsi simbolik yang kuat, titik temu, penanda orientasi, sekaligus rujukan ingatan kolektif warga Palembang. Di sinilah warga berjanji, bertemu, atau sekadar menyebut arah. Setiap perubahan bentuk yang berlangsung di dalamnya selalu membawa pesan tentang bagaimana kota ini, pada suatu masa, memilih menampilkan dirinya.

 

Air Mancur dan Awal Wajah Kota

Pada fase awalnya, kawasan ini hadir sebagai bundaran air mancur, bukan sebagai tugu. Pilihan tersebut bukan tanpa makna. Air, bagi Palembang, bukan sekadar elemen estetika, melainkan fondasi peradaban. Kota ini tumbuh dari sungai, dari arus, dari kehidupan yang bergantung pada air sebagai sumber, jalur, dan simbol.

Bundaran Air Mancur Masjid Agung pada masanya menjadi penanda Palembang modern. Banyak warga menyimpan ingatan personal di ruang ini, menunggu kawan, membuat janji, atau melintas sambil menyaksikan cahaya air mancur di malam hari. Ingatan ingatan kecil itu, yang sering luput dicatat, justru membentuk kedekatan emosional warga dengan ruang kota tersebut.

 

Dari Air Mancur ke Monumen

Perubahan signifikan terjadi ketika air mancur digantikan oleh sebuah tugu yang dibangun melalui dana Corporate Social Responsibility PT Pertamina. Pergeseran ini mencerminkan perubahan cara kota memproduksi simbol, dari ruang publik yang cair menuju monumen yang lebih tegas dan monumental.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ruang kota tidak pernah netral. Ia selalu ditafsir ulang, mengikuti arah kebijakan, bahasa pembangunan, dan pesan apa yang hendak disampaikan kepada publik pada satu periode tertentu. Dalam proses itu, makna lama tidak sepenuhnya hilang, tetapi sering kali tertutup oleh simbol baru.

 

Tugu SEA Games dan Citra Global

Babak berikutnya hadir ketika Palembang dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games. Tugu di kawasan ini kembali berubah, kali ini menjadi Tugu SEA Games. Ia tampil sebagai simbol prestasi, kebanggaan, dan keterhubungan Palembang dengan dunia regional Asia Tenggara.

Pada fase ini, kawasan Bundaran Air Mancur memantulkan citra Palembang sebagai kota yang percaya diri dan terbuka. Namun, bersamaan dengan itu, simbol simbol lokal berada di latar belakang, digantikan oleh narasi perayaan dan capaian. Menariknya, seluruh perubahan tersebut berlangsung di titik ruang yang sama. Fisiknya tetap, tetapi pesan yang disematkan terus berganti.

Dr. Kemas AR. Panji
Dr. Kemas A. R. Panji, M.Si (Dok. Kemas AR Panji)
Menghadirkan Identitas Lokal

Kehadiran Tugu Cempako Telok menandai fase pemaknaan baru. Perlu diluruskan sejak awal bahwa Cempako Telok bukanlah nama lama kawasan ini, melainkan nama bunga khas Palembang yang dihadirkan sebagai identitas simbolik tugu.

Cempako Telok adalah sebutan lokal masyarakat Palembang untuk bunga cempaka, yang secara botani termasuk dalam genus Magnolia. Bunga ini hidup lama dalam tradisi, simbol, dan ingatan kultural masyarakat.

Kehadirannya pada tugu bukan klaim ulang atas sejarah penamaan tempat, melainkan upaya sadar menghadirkan identitas lokal pada ruang kota yang telah lama menjadi pusat orientasi publik.

 

Adat, Syariat, dan Simbol Visual

Konsep perancangan tugu mengusung falsafah “adat dipangku, syariat dijunjung”, sebuah sondok piyogo dalam pandangan hidup masyarakat Palembang. Prinsip ini menegaskan bahwa adat dan syariat Islam tidak dipertentangkan, melainkan berjalan beriringan sebagai fondasi kehidupan sosial dan spiritual Palembang Darussalam.

Secara visual, falsafah tersebut diwujudkan melalui tiang yang memangku dulang, dengan bunga Cempako Telok di puncaknya. Dulang dimaknai sebagai wadah, simbol Palembang sebagai kota yang menghimpun keberagaman etnis dan budaya dalam satu kesatuan masyarakat yang beradat.

Di bagian atas, ornamen Muhammad Betangkup, seni ukir khas Palembang yang lazim ditempatkan di puncak Rumah Limas, melambangkan sikap menjunjung tinggi syariat Islam sebagai pedoman hidup.

Sementara itu, lima bunga Cempako Telok berwarna emas di bagian bawah bundaran merepresentasikan perjalanan sejarah Palembang dari Sriwijaya hingga Palembang Darussalam, sekaligus dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam dan lima waktu salat.

Bunga Cempako Telok sendiri, dengan keharuman dan keindahannya, melambangkan kesucian niat, kemanfaatan, dan keharmonisan hidup bersama, nilai nilai yang sejak lama dijaga dalam masyarakat Palembang.

 

Kota sebagai Arsip Hidup

Dari air mancur, tugu CSR, Tugu SEA Games, hingga Tugu Cempako Telok hari ini, kawasan Bundaran Air Mancur Masjid Agung dapat dibaca sebagai arsip hidup kota. Setiap generasi menafsirkan ruang yang sama dengan sudut pandang berbeda, tanpa pernah sepenuhnya memutus hubungan dengan masa lalu.

Di tengah laju pembangunan kota yang kian cepat, kawasan ini mengingatkan bahwa kota bukan semata soal infrastruktur. Kota juga soal ingatan, nilai, dan pilihan identitas.

Selama orang Palembang masih berkata, “kito ketemuan di bundaran air mancur”, atau kini mulai menyebut, “di Tugu Cempako Telok”, ruang itu akan tetap hidup, sebagai penanda bagaimana Palembang merajut adat dan syariat, masa lalu dan masa kini, di jantung kotanya. (Diolah dari rilis resmi tim 11)