Oleh: Dian Maulana
Staff Local Initiative and OSH Network Indonesia (Lion Indonesia)
Di dunia pengorganisasian pekerja, ada satu anggapan yang sudah lama kita terima begitu saja. Banyak yang percaya, begitu seseorang sadar ada ketidakadilan di depan mata, pasti dia akan tergerak untuk mengubah keadaan. Secara logika sih masuk akal, tapi kalau kita lihat kenyataan di lapangan, sering kali beda jauh dari teori itu.
Kita semua tahu, sebagian besar pekerja sebenarnya paham betul kondisi yang mereka alami tidak wajar. Mereka sadar kalau hak-haknya sering diabaikan, tahu kalau atasan memperlakukan mereka tidak sama rata, atau mengerti betul kalau sistem yang ada justru lebih menguntungkan pemilik modal daripada mereka yang bekerja. Anehnya, kepahaman itu sering kali berhenti sampai di kepala saja, tidak sampai ke tindakan. Ada yang memilih diam saja, ada yang bertahan apa adanya, ada juga yang akhirnya ikut arus dan menyesuaikan diri saja.
Selama ini kita sering menilai sikap diam itu sebagai rasa takut atau bentuk ketidakpedulian. Padahal masalahnya bisa jauh lebih rumit dari sekadar itu. Sering kali manusia tidak semata-mata mencari keadilan. Ada hal lain yang lebih mereka kejar, yaitu kepastian. Bagi banyak orang, kondisi yang buruk tapi sudah bisa ditebak nasibnya, rasanya jauh lebih aman dibandingkan perubahan besar yang ujungnya belum tahu seperti apa.
Kalau kita mau jujur, posisi pekerja yang punya tanggungan keluarga itu beda pandangannya sama kita para aktivis atau pengelola organisasi. Mereka punya cicilan yang harus dibayar, biaya sekolah anak yang tidak bisa ditunda, dan kebutuhan hidup harian yang harus dipenuhi. Bagi mereka, pertanyaan utamanya sederhana, bukan soal adil atau tidak adil, tapi apakah langkah yang akan diambil itu nanti malah bikin mereka kehilangan penghasilan atau tidak. Yang paling penting buat mereka adalah menjaga stabilitas hidup yang masih bisa dipegang saat ini.
Dari situlah muncul apa yang saya sebut sebagai mitos besar soal perubahan. Kita terlalu sering berharap kalau kesadaran itu otomatis bikin orang berani bertindak. Padahal faktanya, seseorang bisa sangat paham kalau dia sedang diperlakukan tidak adil, tapi tetap memilih diam karena di matanya risiko untuk berubah itu dirasa terlalu besar buat ditanggung.
Belum lagi kalau ketidakadilan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Lama-kelamaan hal yang salah itu jadi dianggap biasa saja. Begitu praktik merugikan terus berulang dari generasi ke generasi tanpa ada yang melawan, perlahan-lahan pekerja jadi menganggap itu sudah bagian dari nasib kerja mereka. Kalimat yang sering kita dengar seperti memang dari dulu begitu atau sudah biasa saja, itu tanda jelas kalau ketidakadilan sudah tidak dipandang sebagai masalah, tapi sudah jadi kenyataan hidup yang harus diterima.
Menurut saya, di sinilah tantangan terbesar kita. Bukan lagi soal membuktikan bahwa ada ketidakadilan. Saya rasa hampir semua pekerja sudah tahu itu. Yang jauh lebih berat tugas kita sekarang adalah bagaimana menanamkan keyakinan bahwa perubahan itu masih mungkin terjadi, dan meyakinkan mereka bahwa risiko berjuang itu belum tentu lebih besar dibandingkan risiko kalau mereka diam saja dan terus hidup dalam keadaan sama.
Lalu apa jalan keluarnya?
Kalau inti masalahnya adalah mengubah cara pandang dari rasa percuma menjadi rasa mungkin, maka cara kerja kita juga harus diubah total. Jangan harap kita bisa menggerakkan orang cuma dengan penyuluhan hukum, membacakan pasal-pasal hak, atau menumpuk data soal ketidakadilan. Semua hal itu sebenarnya sudah mereka pahami, tapi belum cukup kuat buat bikin mereka bergerak. Ada tiga langkah utama yang harus kita pegang, dan ini kunci yang sesungguhnya.
Pertama, kita harus ubah cara bicara. Berhenti terus-menerus membahas soal keadilan, dan mulailah bicara pakai bahasa risiko dan rasa aman. Selama ini kita terlalu sering berapi-api menyuarakan soal hak, kewajiban, dan keadilan sosial. Padahal di telinga pekerja yang punya tanggungan berat, kata-kata indah itu terdengar berbahaya. Kita harus masuk ke cara pikir mereka. Kita harus berani menjelaskan dengan jujur bahwa diam saja itu bukan berarti aman. Bertahan dalam keadaan yang sama sebenarnya menyimpan risiko jauh lebih besar di masa depan, dibandingkan risiko kalau kita berubah sekarang. Kita harus bikin mereka paham, bahwa ketidakpastian akibat perubahan itu ternyata lebih ringan bebannya, dibandingkan kepastian menderita yang bakal mereka alami seumur hidup kalau diam saja. Selama mereka belum yakin kalau diam itu lebih berisiko daripada bergerak, mereka akan tetap memilih diam.
Kedua, berikan mereka kepastian kecil dulu sebelum menjanjikan perubahan besar. Orang itu tidak berani melangkah kalau di depannya cuma ada ketiadaan. Ketidakadilan yang sudah dianggap biasa itu bisa bertahan lama karena dia memberi satu hal, yaitu kepastian nasib, seburuk apa pun nasib itu. Nah, untuk menggesernya, jangan langsung menuntut perubahan besar yang bikin takut. Kita harus mulai dari kemenangan-kemenangan kecil, langkah-langkah yang risikonya bisa dihitung, dan hasilnya terasa nyata di tangan mereka. Satu perbaikan kecil, satu hak yang akhirnya dipenuhi, atau satu perlakuan yang jadi lebih manusiawi. Hal-hal kecil seperti itu jauh lebih berharga daripada pidato panjang lebar. Karena di situlah keyakinan mulai tumbuh. Begitu mereka rasakan bahwa bergerak itu tidak langsung bikin hidup mereka hancur, tapi malah kasih sedikit kenyamanan baru, barulah rasa percuma itu perlahan hilang dan berganti pikiran bahwa ternyata bisa juga berubah.
Ketiga, bangun rasa aman bersama, jangan menuntut keberanian sendirian. Kesalahan paling sering dilakukan dalam pengorganisasian adalah meminta keberanian individu. Padahal sebenarnya pekerja itu bukan takut sama penguasa atau majikan, mereka cuma takut dikorbankan sendirian. Mereka takut jadi orang yang paling keras suaranya tapi akhirnya cuma dia sendiri yang dipecat atau dirugikan. Maka dari itu, solusinya bukan menciptakan pahlawan-pahlawan berani yang berdiri sendiri. Tapi menciptakan kekuatan yang bikin setiap orang merasa aman. Bikin mereka paham satu hal, kalau saya bergerak, saya tidak berjuang sendirian. Kalau saya kena masalah, mereka semua ada di belakang saya. Begitu rasa aman bersama itu terbangun, rasa takutnya otomatis hilang. Dan saat rasa takut itu hilang, percayalah, ketidakadilan yang sudah dianggap biasa itu bakal runtuh sendiri.
Karena pada akhirnya, masalah paling mendasar dalam mengorganisir orang itu bukan karena kurang informasi atau kurang bukti. Tapi soal bagaimana kita mengubah cara pandang seseorang dari rasa percuma menjadi rasa mungkin. Selama kata percuma itu masih jadi pegangan utama pekerja melihat masa depan, sekuat apa pun organisasi kita bangun, pasti bakal mentok di tembok paling susah ditembus itu.
Tugas kita sebagai organizer sebenarnya sederhana tapi berat bebannya. Bukan cuma sekadar membuka mata mereka supaya sadar ada ketidakadilan. Tapi lebih dari itu, kita harus membangunkan keyakinan mereka bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Dan meyakinkan mereka, berjuang bersama itu jauh lebih aman, daripada bertahan sendirian dalam penderitaan yang sama terus-menerus.

















