Jakarta, UpdateKini – Sektor industri makanan dan minuman terus menjadi penopang utama industri manufaktur nasional. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pada triwulan I tahun 2026 sektor ini berkontribusi sebesar 38,35 persen terhadap nilai produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan.
Dalam siaran pers Kementerian Perindustrian RI pada Minggu (31/5/2026), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) pangan memerlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
“Pembinaan IKM pangan menjadi tugas bersama karena jumlahnya mencapai 2,07 juta unit usaha atau 46,63 persen dari total unit usaha IKM nasional yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Agus.
Menurutnya, IKM pangan tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pemberdayaan masyarakat. Selain itu, sektor industri makanan dan minuman tercatat memberikan kontribusi sebesar 38,35 persen terhadap nilai PDB industri pengolahan pada triwulan I 2026.
Kinerja positif juga terlihat dari capaian ekspor industri pangan. Pada Februari 2026, nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD4,47 miliar atau menyumbang 24,07 persen terhadap total ekspor industri pengolahan.
“Kinerja tersebut menunjukkan bahwa industri pangan merupakan salah satu sektor yang paling resilien dan memiliki prospek yang sangat baik untuk terus berkembang,” kata Agus.
Kemenperin menyatakan terus memperkuat ekosistem IKM pangan melalui berbagai program pembinaan, antara lain pendampingan penerapan sistem keamanan pangan dan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), penguatan kemitraan usaha, fasilitasi akses pasar domestik dan ekspor, pendampingan pemasaran digital, program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi, hingga transformasi Industri 4.0.
















