OKU, UpdateKini – Sebuah kegiatan Diskusi Kebudayaan bertema “Pelindungan dan Revitalisasi Metode Pengawetan Tradisional Buah Sawo sebagai Pengetahuan Lokal Masyarakat Jeme Bakhi” digelar pada 01 Juni 2026 di Desa Peninjauan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Diskusi Kebudayaan ini, menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan penggiat budaya, serta diselenggarakan oleh Reza Yuniska Sari.
Dalam jalannya diskusi, Fadila sebagai narasumber pertama menekankan bahwa tradisi pengawetan buah sawo bukan hanya sekadar teknik pangan, melainkan simbol kebersamaan masyarakat Jeme Bakhi. Ia menyampaikan bahwa “sawo asin adalah bukti nyata bagaimana masyarakat kita mampu beradaptasi dengan alam melalui cara sederhana, alami, dan penuh makna. Jika tradisi ini tidak dijaga, maka generasi muda akan kehilangan jejak budaya yang menjadi identitas mereka.”
Sementara itu, Ratna Juwita menyoroti dimensi sosial dari praktik ini. Ia menjelaskan bahwa proses pengawetan sawo dilakukan dengan gotong royong, melibatkan seluruh anggota keluarga dan komunitas. “Di balik proses merendam, menjemur, dan merawat sawo asin, terdapat nilai kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial. Tradisi ini bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang cara hidup yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Narasumber ketiga, Melisa Paulina, memberikan perspektif akademis yang lebih luas. Menurutnya, pengawetan sawo asin adalah bentuk pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jeme Bakhi. “Tradisi ini mengajarkan kesabaran, penghormatan terhadap alam, dan menjadi identitas budaya yang harus diwariskan lintas generasi. Ia bukan sekadar teknik, melainkan filosofi hidup yang menyatukan manusia dengan lingkungannya,” ungkapnya.
Acara ini merupakan bagian dari program Fasilitas Pemajuan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.
Penyelenggara kegiatan tersebut Reza Yuniska Sari, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa buku yang disusun bersama tim hadir sebagai dokumentasi penting untuk menjaga pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman. “Kami berterima kasih kepada masyarakat Desa Peninjauan yang masih menyimpan dan menceritakan kembali pengetahuan tentang sawo asin. Dukungan mereka sangat penting dalam proses penyusunan buku ini. Harapan kami, dokumentasi ini menjadi langkah kecil untuk menjaga ingatan budaya, menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang mulai terlupakan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan Nusantara,” ujarnya.
Diskusi kebudayaan tersebut dipimpin oleh Mardiana berjalan dengan khidmat sampai selesai acara, menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Jeme Bakhi. Kehadiran para narasumber yang memberikan pandangan dari sisi tradisi, sosial, hingga akademis, serta dukungan masyarakat Desa Peninjauan, menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga warisan leluhur agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan dan buku ini merupakan hasil dokumentasi yang dihasilkan, diharapkan generasi muda semakin memahami nilai budaya yang terkandung dalam tradisi pengawetan sawo asin, menjadikannya bagian dari identitas lokal yang patut dibanggakan dan terus dilestarikan lintas generasi.
















