Scroll untuk baca artikel
SelebritiSeni dan Budaya

Filosofi “Iqro” Ala Raim Laode, Belajar Tak Sekadar Membaca

×

Filosofi “Iqro” Ala Raim Laode, Belajar Tak Sekadar Membaca

Sebarkan artikel ini

Jakarta, UpdateKini – Raim Laode membagikan pandangannya mengenai makna iqro yang menurutnya jauh lebih luas daripada sekadar membaca. Penyanyi sekaligus komedian ini menilai iqro merupakan proses terus belajar dan meningkatkan kualitas diri melalui pemahaman baru yang diperoleh dari kehidupan.

 

Ia mengungkapkan bahwa di lingkungan kerjanya terdapat kebiasaan unik setiap awal pekan. Alih-alih bertanya buku apa yang sedang dibaca, ia dan timnya saling melempar pertanyaan, “Minggu ini kau iqro apa?” Pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui pelajaran atau wawasan baru yang didapat seseorang selama sepekan.

 

Dalam perbincangan di kanal YouTube Jeda Nulis, Minggu (26/7), Raim menjelaskan bahwa membaca hanya sebatas memahami rangkaian kata dalam sebuah tulisan. Sementara itu, iqro dimaknainya sebagai proses mengembangkan diri melalui pengetahuan, pengalaman, maupun sudut pandang baru yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ia kemudian memberikan contoh bahwa dalam situasi tertentu mengetahui sesuatu bisa lebih penting daripada mampu melakukannya. Seseorang, misalnya, dapat memahami seperti apa hasil edit video yang baik meski belum tentu memiliki kemampuan teknis untuk mengeditnya. Pemahaman tersebut tetap menjadi bekal penting untuk terus berkembang.

 

“Kita rajin upgrade di kantor. Di awal minggu kami biasa bertanya, ‘Minggu ini kau iqro apa?’ Maksudnya, hal baru apa yang kamu dapat tentang hidup minggu ini,” terangnya.

 

Budaya saling berbagi pelajaran baru itu rutin diterapkan bersama timnya sebagai bagian dari proses belajar yang berkelanjutan. Bagi Raim, setiap pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran yang membantu seseorang berkembang, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

 

Dalam kesempatan yang sama, Raim juga mengungkapkan bahwa belakangan ini pemikiran dan keresahannya lebih banyak berkaitan dengan kehidupan keluarga. Memasuki tahun keempat pernikahan dan tahun ketiga menjadi ayah, ia mengaku lebih banyak menyalurkan refleksi tersebut melalui karya-karya musiknya.