Jakarta, UpdateKini – Tak banyak yang tahu, jauh sebelum dikenal sebagai salah satu chef ternama di Indonesia, Juna Rorimpandey atau Chef Juna pernah menjalani berbagai profesi untuk bertahan hidup di Amerika Serikat. Mulai dari buruh, pengantar laundry, hingga menjadi bouncer di klub malam, pekerjaan itu dilakoninya sebelum akhirnya menemukan jalan hidup sebagai seorang koki.
Kisah tersebut diungkapkannya saat berbincang di kanal YouTube C8 Podcast, Minggu (26/7). Ia menceritakan bahwa setelah tak menamatkan sekolah pilot, dirinya memilih tetap tinggal di Amerika Serikat. Saat itu Indonesia tengah dilanda krisis moneter sehingga ia merasa belum memiliki tujuan jika kembali ke Tanah Air.
“Habis gagal sekolah pilot itu kan luntang-lantung. Indonesia lagi krisis moneter. Terus enggak mau pulang karena enggak tahu mau ngapain lagi. Akhirnya ya sudah kerja serabutan,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Chef Juna mengaku pernah bekerja sebagai buruh, mengantar laundry menggunakan mobil van, hingga menjadi bouncer di sebuah klub malam. Menurutnya, menjadi bouncer di Amerika Serikat tidak selalu identik dengan postur tubuh yang besar, melainkan bertugas memastikan setiap pengunjung mematuhi aturan yang berlaku.
“Saya kerja buruh, pernah delivery laundry, pernah jadi bouncer. Jadi bouncer itu bukan necessarily kita harus besar badannya. Yang penting ada aturannya. Kalau ada yang terlalu mabuk atau bikin orang lain enggak nyaman, ya harus keluar,” katanya.
Dirinya menjelaskan, selama bertugas sebagai bouncer, dirinya juga bertanggung jawab memeriksa identitas pengunjung sebelum memasuki klub. Ia mengatakan, sistem hukum yang tegas di Amerika membuat para pengunjung umumnya mematuhi arahan petugas.
“Kalau kita tarik keluar biasanya mereka nurut. Karena kalau enggak, ada pasalnya,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Chef Juna mengungkapkan dirinya menghabiskan sekitar 13 tahun di Amerika Serikat. Selama kurang lebih 12,5 tahun, ia bahkan tidak pernah pulang ke Indonesia.
Perjalanan hidupnya mulai berubah ketika seorang teman mengajaknya bekerja di sebuah restoran Jepang. Awalnya ia diterima sebagai pelayan. Namun, karena sering bertanya dan menunjukkan ketertarikan terhadap pekerjaan di dapur, seorang sushi master kemudian mengajaknya belajar memasak.
Saat itu usianya sekitar 23 tahun. Dengan bekal ijazah SMA, Chef Juna melihat kesempatan tersebut sebagai jalan untuk memperoleh keterampilan yang dapat menjadi modal hidup.
“Waktu itu saya cuma punya ijazah SMA. Saya pikir, ya sudah, mau dilatih saja. Setidaknya saya punya skill,” ungkapnya.
Keputusan menerima tawaran tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari dapur restoran Jepang, Chef Juna mulai menemukan kecintaannya terhadap dunia kuliner dan menekuni profesi sebagai koki.
“Awalnya jadi pelayan. Terus karena sering tanya-tanya, sushi master ngajak saya ke dapur,” kenangnya.
Perjalanan panjang yang dimulai dari berbagai pekerjaan serabutan hingga akhirnya menjadi koki profesional itu mengantarkan Chef Juna menjadi salah satu figur paling dikenal di dunia kuliner Indonesia. Kisahnya menjadi bukti bahwa kesuksesan dapat diraih melalui kerja keras, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian mengambil peluang yang datang.

















