Scroll untuk baca artikel
Regional

SMB IV: Kemajuan Indonesia Harus Berjalan Bersama Penguatan Budaya Nusantara

×

SMB IV: Kemajuan Indonesia Harus Berjalan Bersama Penguatan Budaya Nusantara

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Kemajuan Indonesia dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan identitas dan kebudayaan Nusantara. Pembangunan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga bagaimana bangsa tetap menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Pesan tersebut disampaikan Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn, dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Senin (17/8/2026).

 

SMB IV yang juga merupakan DK-MAKN hadir dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Merdeka. Ia didampingi Pangeran Citro Dr. H. Kemas Herman, S.H., M.H., M.Si., yang menjabat sebagai Ketua BAKUM MAKN.

 

Dalam kesempatan tersebut, SMB IV menekankan pentingnya menjaga keberagaman adat, budaya, dan tradisi kerajaan serta kesultanan Nusantara sebagai bagian dari identitas nasional.

 

Menurutnya, warisan budaya tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pijakan dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih kuat, bersatu, dan berkarakter.

 

“Semangat kemerdekaan hendaknya terus kita hidupkan melalui persatuan, pengabdian kepada bangsa dan negara, serta kepedulian untuk menjaga warisan budaya Nusantara. Kemajuan Indonesia akan semakin kokoh apabila pembangunan berjalan beriringan dengan penguatan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa,” kata SMB IV.

 

Ia menilai keberagaman budaya Indonesia merupakan kekuatan yang perlu dirawat bersama. Adat dan tradisi yang hidup di berbagai daerah, termasuk warisan kerajaan dan kesultanan Nusantara, menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya identitas bangsa.

 

Karena itu, pelestarian budaya juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman. Generasi penerus tidak hanya dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga memahami akar sejarah dan kebudayaan bangsanya.

 

Pangeran Citro Dr. H. Kemas Herman menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal seperti musyawarah, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan semangat kebersamaan merupakan modal sosial yang penting untuk terus diwariskan.

 

Ia berharap kerajaan, kesultanan, dan keraton Nusantara dapat terus mengambil peran dalam menjaga nilai sejarah dan budaya sekaligus memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional.

 

Momentum kemerdekaan, kata dia, dapat menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta pemangku adat dan budaya.

 

Dalam momentum tersebut, sejumlah tokoh Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) turut hadir, di antaranya Raja Sekadau, Sultan Keprabonan Cirebon, Sekretaris Jenderal MAKN YM Dra. K.RAy.T. Wasitaningrum Yani WSS Kuswodidjojo, para Ketua DPP MAKN, Dewan Pakar MAKN, serta jajaran BAKUM MAKN.

 

Kehadiran para tokoh adat dan kerajaan Nusantara menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan bahwa keberagaman bukan sekadar identitas, melainkan kekuatan yang dapat menjadi modal sosial dalam membangun Indonesia.

 

SMB IV pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga persaudaraan dan persatuan di tengah keberagaman suku, adat, budaya, bahasa, serta tradisi.

 

“Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Indonesia Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju,” kata SMB IV.