Jakarta, UpdateKini – Sejumlah fasilitas transportasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Meski demikian, Kementerian Perhubungan memastikan konektivitas transportasi tetap berjalan untuk mendukung mobilisasi masyarakat dan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemeriksaan dan asesmen terhadap sarana serta prasarana transportasi terus dilakukan untuk memastikan fasilitas yang digunakan masyarakat tetap aman.
“Semangat kemerdekaan bukan hanya kita tunjukkan melalui perayaan, tetapi juga melalui kepedulian dan kerja nyata ketika saudara-saudara kita sedang menghadapi bencana,” ujar Dudy di Jakarta, Senin (17/8).
Pada sektor transportasi udara, Kemenhub melaporkan terdapat lima bandar udara yang terdampak gempa. Kelimanya yakni Bandara Komodo di Labuan Bajo, H. Hasan Aroeboesman di Ende, Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Frans Sales Lega di Ruteng, dan Soa di Bajawa.
Kerusakan ditemukan pada sejumlah fasilitas, antara lain gedung terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, fasilitas pendukung, hingga sisi udara. Tingkat kerusakan berbeda-beda di setiap bandara.
Meski mengalami dampak gempa, seluruh bandara tersebut masih melayani operasional dan tidak ada yang ditutup.
Kemenhub juga menyiapkan konektivitas udara untuk mendukung penanganan bencana, termasuk mobilisasi personel, peralatan, serta pengiriman bantuan. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyiapkan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD) agar bandara dapat dioptimalkan apabila diperlukan untuk operasi kemanusiaan.
Sementara itu, pada sektor transportasi laut, dampak gempa terjadi di sejumlah pelabuhan. Pelabuhan Laurentius Say dan Pelabuhan Reo mengalami dampak, sedangkan kerusakan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di Pelabuhan Labuan Bajo, Marapokot, Ende, dan Waingapu.
Meski demikian, pelabuhan-pelabuhan di NTT tetap melayani operasional kapal dan penumpang dengan mengutamakan keselamatan. Posko juga disiagakan untuk mendukung pelayanan di lapangan.
Untuk layanan angkutan perintis, operasional tetap berjalan dan sejauh ini belum ada permintaan deviasi trayek.
Di sektor transportasi darat, layanan keperintisan angkutan jalan juga siap kembali beroperasi setelah akses jalan yang sebelumnya terputus akibat longsoran sudah dapat dilalui.
Dudy menegaskan, transportasi memiliki peran penting dalam penanganan bencana karena menjadi jalur utama untuk mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
“Kemenhub terus berkoordinasi dengan BMKG, BNPB, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, penyelenggara transportasi, dan operator untuk memastikan setiap keputusan operasional didasarkan pada kondisi terbaru di lapangan,” katanya.
Kemenhub memastikan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas dalam menjaga konektivitas transportasi di NTT. Dengan tetap beroperasinya bandara, pelabuhan, dan layanan transportasi darat, mobilisasi masyarakat serta distribusi bantuan diharapkan dapat terus berlangsung di tengah kondisi pascagempa.

















