Jakarta, UpdateKini – Ketika membayangkan sarapan ala Eropa, banyak orang mungkin langsung teringat pada roti, mentega, keju, dan secangkir kopi. Padahal, kebiasaan sarapan di Eropa cukup beragam dan berbeda-beda di setiap negara.
Ada yang menyukai sarapan sederhana dengan roti dan selai, tetapi ada pula yang terbiasa menyantap telur, sosis, bubur gandum, hingga makanan yang gurih dan mengenyangkan.
Di Prancis, misalnya, orang Prancis umumnya menyajikan sarapan sederhana. Croissant, baguette, mentega, selai, serta kopi atau minuman hangat menjadi beberapa pilihan populer. Porsinya cenderung tidak terlalu besar karena makan siang dan makan malam memegang peran penting dalam pola makan sehari-hari.
Berbeda dengan Inggris yang memiliki menu sarapan lebih lengkap. Full English breakfast secara tradisional bisa terdiri dari telur, sosis, bacon, baked beans, tomat, jamur, dan roti panggang. Menu ini terasa jauh lebih berat dibandingkan sarapan khas Prancis.
Sementara itu, masyarakat Italia sering menikmati sarapan ringan seperti cornetto, yaitu kue mirip croissant, bersama cappuccino atau espresso. Mereka biasanya menikmati sarapan ini di kafe atau kedai kopi sebelum memulai aktivitas.
Di Spanyol, sarapan juga menawarkan pilihan yang sederhana tetapi khas. Salah satunya pan con tomate, yaitu roti yang diberi tomat halus atau tomat yang sudah dihaluskan, lalu ditambah minyak zaitun dan garam. Ada pula churros yang orang makan bersama cokelat panas.
Negara-negara Eropa Utara memiliki kebiasaan yang berbeda lagi. Di beberapa wilayah, roti gandum, keju, ikan, telur, yoghurt, buah, dan berbagai makanan dingin menjadi bagian dari sarapan.
Di Jerman, orang Jerman menyebut sarapan tradisional mereka terdiri dari roti, keju, daging olahan, telur, mentega, dan selai. Menu tersebut menunjukkan bahwa sarapan tidak selalu identik dengan makanan manis.
Sementara di kawasan Nordik seperti Swedia, orang biasanya menyantap sarapan berupa roti dengan keju atau potongan daging, yoghurt, sereal, dan bubur. Ikan juga tidak asing dalam pola makan masyarakat di kawasan tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis “sarapan Eropa”. Setiap negara memiliki kebiasaan yang dipengaruhi budaya, iklim, bahan makanan yang tersedia, dan pola aktivitas masyarakatnya.
Meski begitu, ada satu kesamaan yang cukup terlihat. Sarapan di banyak negara Eropa cenderung menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat. Ada yang ringan dan cepat disantap, sementara lainnya lebih lengkap untuk memberi energi sebelum menjalani aktivitas.
Jadi, kalau selama ini sarapan ala Eropa dianggap hanya roti dan kopi, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Dari croissant Prancis hingga Full English breakfast, Eropa memiliki begitu banyak pilihan sarapan dengan cita rasa dan kebiasaan yang berbeda.

















