Bandung, Updatekini – Semangkuk Soto Bandung mungkin terlihat sederhana. Kuah bening, irisan lobak, potongan daging, daun bawang dan seledri. Namun, di balik sajian tersebut tersimpan resep keluarga yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Salah satunya hadir di Soto Bandung Lejen, Jalan Pandu Nomor 14, Pamoyanan, Kota Bandung. Usaha kuliner ini mempertahankan resep Soto Bandung sejak 1953 dan kini tak hanya menjadi tujuan warga lokal, tetapi juga menarik wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Melansir Portal Resmi Kota Bandung Rabu (12/8), pemilik Soto Bandung Lejen, Sony Jaka Yusuf, mengatakan cita rasa yang diwariskan keluarganya tetap dipertahankan hingga generasi ketiga.
Mulai dari pemilihan bahan, bumbu, daging hingga proses pengolahan, menurut Sony, masih mengikuti resep yang diwariskan sejak dahulu.
“Dari pemilihan material, pemilihan bumbu, pemilihan daging, sampai pengolahannya, dari dulu sampai sekarang itu sama,” ujar Sony saat ditemui di kedai Soto Bandung Lejen, Rabu (5/8/2026).
Perubahan zaman memang membuat proses memasak ikut berubah. Jika dahulu soto dimasak menggunakan kayu bakar, kini gas digunakan karena lebih praktis.
Meski aroma yang dihasilkan berbeda, Sony memastikan karakter rasa Soto Bandung tetap dipertahankan.
“Dulu aromanya lebih tradisional karena pakai kayu bakar. Kalau sekarang sudah pakai gas, pasti ada beda aroma. Tapi cita rasanya tetap ada,” katanya.
Warisan Tiga Generasi
Jejak Soto Lejen bermula dari keluarga Sony. Sang kakek, M. Tarya, disebut sebagai salah satu pelopor Soto Bandung berbahan lobak.
Pada era 1950-an, keluarga tersebut telah berjualan soto di kawasan Jalan Tamim yang kala itu dikenal sebagai Jalan Raya Barat.
Sony juga menyebut sejarah keluarganya memiliki hubungan dengan Soto Ojolali di Jalan Cibadak.
“Kalau tahun 1970-an, yang saya tahu Soto Bandung itu hanya ada dua, Soto Ojolali dan Soto M. Tarya. Mereka adik kakak,” tuturnya.
Tradisi berjualan soto kemudian diteruskan generasi berikutnya. Setelah sempat berhenti, ibu Sony kembali membuka usaha Soto Bandung pada 1989 di Jalan Muhammad Ramdan Nomor 85.
Usaha keluarga tersebut kemudian berkembang hingga kini hadir di Jalan Pandu Nomor 14.
Sony menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha tersebut. Sementara nama “Lejen” muncul dari generasi berikutnya dan terinspirasi dari kata “legenda”.
Menu Tradisional dengan Sentuhan Baru
Soto tetap menjadi menu yang paling banyak dipesan. Dari sekitar 10 porsi makanan yang terjual, rata-rata tujuh di antaranya merupakan soto.
Selain menggunakan daging tanpa lemak yang menjadi ciri khasnya, Soto Lejen kini juga menyediakan varian Soto Bandung Iga.
“Kalau dulu dagingnya non-fat, tidak ada lemaknya. Sekarang kami juga menyediakan Soto Bandung Iga,” ujar Sony.
Pelengkapnya pun tetap mempertahankan karakter Soto Bandung, seperti usus, paru, babat, gepuk atau empal hingga perkedel.
Ada pula menu nasi bejek, yakni nasi yang dicampur sambal dan disajikan bersama pilihan lauk. Sementara bagi pencinta jeroan, tersedia menu “jeroan party” yang berisi kombinasi usus, paru dan babat.
Harga makanan di Soto Lejen berkisar mulai Rp25 ribu untuk paket hemat hingga sekitar Rp47 ribu untuk Soto Iga.
Pelanggan Turun-Temurun hingga Turis Belanda
Menariknya, perjalanan Soto Lejen tidak hanya ditandai oleh keberlangsungan resep, tetapi juga pelanggan yang datang lintas generasi.
Sony menyebut sekitar 80 persen konsumennya sejak dahulu merupakan masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak pelanggan yang datang secara turun-temurun, mulai dari generasi kakek, orang tua hingga cucu.
“Dari dulu kami itu sekitar 80 persen konsumennya Tionghoa. Mereka turun-temurun, dari kakeknya sampai cucunya,” ungkapnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda juga mulai semakin akrab dengan Soto Bandung.
Namun, cerita menarik lainnya datang dari wisatawan mancanegara.
Lokasi Soto Lejen yang berdekatan dengan kawasan kerkhof atau pemakaman Belanda membuat kedai tersebut turut dikunjungi wisatawan asal Belanda.
Sony bahkan mengaku cukup sering menerima rombongan wisatawan Belanda.
“Belanda itu rutin. Sebulan bisa tiga kali ada grup ke sini,” ujarnya.
Wisatawan dari Prancis, Italia dan sejumlah negara lainnya juga pernah mencicipi Soto Bandung di kedai tersebut.
Sebagian pelanggan mengetahui Soto Lejen melalui mesin pencarian dan ulasan di internet. Sebagian lainnya datang karena rekomendasi atau merupakan pelanggan lama yang kembali berkunjung.
Pada akhir pekan, sekitar 80 persen pelanggan disebut berasal dari luar Bandung, dengan Jakarta menjadi salah satu daerah asal pengunjung yang cukup dominan.
Dari Bandung untuk Dunia
Bagi Sony, perjalanan Soto Bandung Lejen selama lebih dari 70 tahun membuktikan bahwa kuliner lokal memiliki peluang untuk dikenal lebih luas.
Menurutnya, cita rasa menjadi salah satu kunci agar makanan tradisional dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kalau saya pikir bisa mendunia. Tinggal bagaimana cita rasa yang diutamakan,” ujar Sony.
Perjalanan Soto Lejen juga menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar makanan. Di dalam semangkuk soto terdapat sejarah keluarga, perjalanan lintas generasi, interaksi budaya hingga identitas sebuah kota.
Kayu bakar memang telah berganti gas. Generasi pun terus berganti. Selera pelanggan ikut berubah.
Namun, satu hal tetap dipertahankan: resep dan cita rasa Soto Bandung yang diwariskan sejak 1953.
Kini, dari Bandung, semangkuk Soto Lejen tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga mulai memperkenalkan cita rasa kuliner Sunda kepada wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
















