Jakarta, UpdateKini – Ketika udara mulai dipenuhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjaga kesehatan pernapasan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, Jumat (21/8/2026), imbauan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai langkah untuk mengurangi paparan partikel halus PM2,5 yang terdapat dalam asap karhutla.
Partikel PM2,5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer sehingga dapat terhirup hingga bagian terdalam paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita,” kata Budi, Jumat (21/8).
Gangguan akibat paparan asap dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari iritasi mata, tenggorokan terasa gatal, batuk, hingga sesak napas. Bagi masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis, paparan asap juga berpotensi memperburuk kondisi kesehatan.
Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang paling mudah dilakukan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga diminta membatasi kegiatan di luar rumah, terutama ketika indeks kualitas udara menunjukkan kondisi yang tidak sehat.
Pemantauan kualitas udara secara mandiri juga penting dilakukan. Pemerintah mendorong masyarakat menggunakan aplikasi resmi untuk mengetahui kondisi udara sebelum memutuskan melakukan aktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan data Kemenkes hingga 21 Agustus 2026, karhutla telah menyebar ke 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari wilayah tersebut, sekitar 3 juta jiwa di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar langsung kabut asap. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan riwayat asma dan penyakit paru, perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan pernapasan.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk untuk mencari pertolongan. Warga yang mengalami sesak napas, batuk yang menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat diimbau segera mendapatkan pemeriksaan di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Di tengah udara yang tak lagi bersahabat, menjaga pernapasan bukan hanya soal mengenakan masker. Membatasi paparan asap, memantau kualitas udara, dan mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar dampak karhutla terhadap kesehatan tidak semakin berat.

















