Oleh: Andhika Tiara
Komite Eliminasi Kekerasan dan Pelecehan Berbasis Gender
“The biggest communication problem is we do not listen to understand. We listen to reply.” Kutipan Stephen R. Covey dalam bukuya The 7 Habits of Highly Effective People itu masih relevan dengan realitas banyak organisasi saat ini. Di tengah berbagai slogan tentang keterbukaan, kolaborasi, dan integritas, kemampuan yang paling mendasar justru sering kali luput dibangun yaitu keberanian untuk mendengar.
Tidak sedikit organisasi mengukur keberhasilannya dari capaian target, pertumbuhan institusi, atau efisiensi kerja. Semua itu memang penting. Namun, ada satu indikator yang kerap terabaikan, yaitu apakah setiap orang di dalam organisasi merasa aman untuk menyampaikan pendapat, kritik, atau bahkan melaporkan persoalan yang terjadi.
Hal ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan lingkungan kerja, perlindungan dari kekerasan dan pelecehan, serta tuntutan akan tata kelola organisasi yang lebih akuntabel. Budaya kerja yang sehat tidak lahir dari banyaknya aturan, melainkan dari kesediaan organisasi untuk mendengar suara orang-orang yang ada di dalamnya.
Sayangnya, budaya diam masih menjadi persoalan yang nyata. Demi menjaga hubungan baik, mempertahankan citra organisasi, atau menghindari konflik dengan atasan, banyak pekerja memilih memendam persoalan. Mereka khawatir dianggap pembuat masalah, dicap tidak loyal, atau bahkan menghadapi konsekuensi yang merugikan kariernya.
Fenomena ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan individu semata. Ketika seseorang enggan berbicara karena merasa tidak aman, sesungguhnya organisasi sedang kehilangan salah satu mekanisme terpenting untuk memperbaiki diri.
Dalam banyak kasus, pelanggaran etik, penyalahgunaan wewenang, diskriminasi, maupun kekerasan berbasis gender tidak terjadi secara tiba-tiba. Sering kali, tanda-tandanya telah muncul jauh sebelumnya. Ada keluhan yang diabaikan, ada kritik yang dianggap mengganggu, atau ada laporan yang tidak ditindaklanjuti secara serius. Ketika suara-suara tersebut tidak memperoleh ruang, masalah kecil perlahan berkembang menjadi krisis yang jauh lebih besar.
Di sinilah keberanian mendengar menjadi fondasi budaya organisasi. Mendengar bukan berarti membenarkan semua pendapat atau memenuhi seluruh tuntutan. Mendengar adalah memberikan kesempatan yang adil bagi setiap suara untuk dipertimbangkan sebelum sebuah keputusan diambil. Mendengar menuntut kerendahan hati untuk menerima bahwa kritik tidak selalu merupakan ancaman, melainkan dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap masa depan organisasi atau lingkup kerja.
Pemimpin memiliki peran yang sangat menentukan dalam membangun budaya tersebut. Kepemimpinan yang sehat bukan hanya tercermin dari kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga dari kesediaan mendengar pandangan yang berbeda, menerima koreksi, dan memastikan setiap proses berlangsung secara adil. Organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bebas dari kritik, melainkan organisasi yang mampu mengelola kritik menjadi pembelajaran.
Kepercayaan merupakan hasil dari proses tersebut. Seseorang akan lebih berani menyampaikan gagasan ketika mereka yakin akan didengar tanpa dihakimi. Mereka akan lebih terbuka melaporkan persoalan ketika percaya bahwa laporannya diproses secara profesional. Sebaliknya, ketika pengalaman yang muncul adalah pembungkaman atau pembalasan, yang tumbuh bukan loyalitas, melainkan ketakutan.
Dalam konteks tersebut, budaya mendengar sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang. Ia memperkuat integritas organisasi, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta mencegah berbagai persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Lebih dari itu, budaya mendengar merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat setiap individu.
Pada akhirnya, organisasi tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi target yang berhasil dicapai, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang bekerja di dalamnya. Lingkungan kerja yang sehat tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh praktik sehari-hari yang menunjukkan bahwa setiap suara memiliki nilai.
Karena itu, sebelum bertanya apakah organisasi telah memiliki sistem yang baik, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk diajukan, sudahkah kita benar-benar memiliki keberanian untuk mendengar?

















