Scroll untuk baca artikel
BisnisMigas

Dimulai dari Nol: Kisah Virgo di Balik Deretan Botol Pertalite

×

Dimulai dari Nol: Kisah Virgo di Balik Deretan Botol Pertalite

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Pagi itu suasana di Jalan Radial Palembang mulai ramai seperti biasa. Kendaraan lalu lalang, pedagang sudah membuka lapak, warga pun bergegas menjalani hari. Tepat di bibir Gapura Lorong HKSN, di samping tempat tambal ban dan persis di depan Sekretariat HMI Cabang Palembang, ada satu warung sederhana yang nyaris tak pernah sepi pembeli.

Pemiliknya Muhammad Imran, kini berusia 54 tahun. Namun orang‑orang di sekitar lebih akrab memanggilnya Virgo, nama yang sudah melekat sejak ia masih kecil dulu.

Di warung itu ia jual bermacam kebutuhan sehari‑hari. Ada air minum, camilan, kopi hangat, sampai rokok. Tapi ada satu barang yang paling laku sekaligus jadi tumpuan hidup keluarganya selama enam tahun belakangan yaitu Pertalite yang dijual eceran.

Botol‑botol berisi bahan bakar itu disusun rapi di atas rak kayu buatan tangannya sendiri. Ukurannya berbeda‑beda, harganya pun menyesuaikan mulai dari Rp12 ribu, Rp18 ribu, sampai Rp20 ribu, tergantung banyaknya isi di dalam wadah bekas botol air berukuran 1,6 liter.

Bagi orang yang sekadar lewat, mungkin itu hanya bensin biasa yang bisa dibeli kapan saja. Tapi bagi Virgo, setiap tetes di dalamnya menyimpan kisah perjuangan, biaya sekolah anak‑anak, serta harapan hidup yang tak pernah padam.

Supaya mutunya tetap terjamin, Virgo membeli Pertalite langsung dari SPBU terdekat. Dalam sehari, ia mengaku bisa enam kali bolak-balik menggunakan motor Suzuki Thunder miliknya yang punya kapasitas tangki sekitar 16 liter.

Sesampainya di warung, isinya dipindah dulu pakai selang ke dalam penampungan, baru kemudian dituang satu‑persatu ke botol yang sudah disiapkan, pas sesuai ukuran dan takarannya.

Kalau persediaan yang terpajang makin menipis, kira‑kira tinggal seperempat bagian saja, ia langsung nyalakan motor kembali menuju SPBU untuk mengisi ulang.

Begitu terus dilakukan berulang‑ulang setiap hari, sudah jadi kebiasaan bahkan bagian dari hidupnya selama enam tahun ini. Lama‑kelamaan ia pun makin akrab dengan petugas yang bertugas di sana.

Setiap kali datang mengisi tangki, petugas itu selalu menyambutnya sambil tersenyum ramah.

“Dimulai dari nol ya Pak,” begitu ucapan yang kerap terdengar dan selalu diingat betul oleh Virgo.

Baginya sapaan sederhana itu bukan sekadar jargonnya SPBU. Rasanya seolah menggambarkan perjalanan hidupnya sendiri, yang dibangun perlahan dari usaha kecil di pinggir jalan ini, sampai sanggup menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak‑anaknya hingga ke perguruan tinggi.

“Alhamdulillah dua anak saya sudah tamat kuliah. Sekarang yang satu sudah bekerja, yang bungsu masih duduk di bangku SMP,” ujarnya sambil tersenyum, lalu berjalan mengambilkan air dingin dari dalam lemari es warungnya.

Buat Virgo, keuntungan dari jualan Pertalite itu bukan sekadar rupiah yang dihitung di penghujung malam. Dari hasil itulah segala kebutuhan sehari‑hari seluruh anggota keluarga terpenuhi. Dari situ pula ia sanggup membiayai pendidikan anak‑anaknya sampai mereka lulus.

Sedangkan uang hasil jualan barang lain, sebagian besar kembali dipakai sebagai modal untuk menambah persediaan dagangan.

Ia tak menjalani semuanya sendirian. Warung yang jadi tumpuan hidup keluarga ini dijalankan secara bergantian bersama anak dan istrinya.

Sejak pagi sampai sore, Virgo yang jaga sekaligus melayani pembeli. Kalau sudah lewat pukul 22.00 WIB, giliran anaknya yang melanjutkan tugas. Kalau malam makin larut, istrinya yang ambil alih sampai sekitar pukul tiga pagi.

Karena buka sampai dini hari, warung kecil ini lama‑kelamaan jadi tempat andalan banyak orang. Salah satunya Wira, seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang rumahnya berada di kawasan Tanjung Barangan Kelurahan Bukit Baru Kecamatan Ilir Barat 1.

Suasana warung Virgo saat malam hari, Foto: Fly

Hampir tiap hari Wira sempatkan mampir ke Sekretariat HMI yang lokasinya tak jauh dari situ. Di sana ia kerap berdiskusi atau sekadar ngobrol santai bareng teman‑teman wartawan. Tak jarang percakapan itu berlanjut sampai larut malam.

Waktu hendak pulang, sering kali indikator bensin di motornya sudah nyaris kosong. Padahal cari SPBU yang masih buka di jam seperti itu kadang tak mudah ditemukan.

Di saat‑saat begitulah warung Virgo benar‑benar jadi penyelamat.

“Sering banget saya terbantu sekali di sini. Tak perlu antre panjang seperti di SPBU besar, dan yang paling penting buka sampai larut. Habis ngobrol di HMI, saya tinggal mampir dulu sebelum pulang ke rumah,” kata Wira.

Menurutnya adanya warung ini bikin warga yang masih beraktivitas sampai malam jadi merasa lebih aman. Lokasinya mudah dijangkau, dan yang paling meyakinkan mutu bensinnya terjamin.

“Yang paling utama buat saya bukan soal harga mahal atau murah, tapi kepastian. Warnanya sama persis kayak yang ada di SPBU, dan bersih. Saya tahu Kak Virgo ambil langsung dari sana, jadi asalnya jelas dan saya pun merasa tenang,” ujarnya lagi.

Ternyata keberadaan warung ini tak cuma bantu satu dua orang saja. Letaknya pas di jalur lalu lintas ramai, bikin jadi tempat singgah beragam kalangan, mulai pengemudi ojek, karyawan kantor, mahasiswa, sampai warga yang sekadar lewat.

Di sebelahnya ada tempat tambal ban yang juga buka hampir tiap hari. Banyak pengendara datang memperbaiki ban sekalian beli bensin, atau sekadar berhenti sejenak minum kopi hangat. Hubungan saling mendukung ini perlahan menciptakan perputaran ekonomi kecil yang tetap berjalan lancar dari pagi sampai dini hari.

Virgo pun sadar betul, usahanya bisa terus berjalan karena kebutuhan masyarakat akan energi tak pernah putus.

“Kadang ada yang datang malam‑malam karena bensinnya habis di tengah jalan. Ada juga yang buru‑buru mau berangkat kerja. Kalau saya bisa bantu, ya saya pasti senang,” katanya.

Dari kisah Virgo dan para pembelinya ini, kita jadi paham betul, bahwa peran energi itu jauh lebih luas dibanding sekadar penggerak mesin kendaraan saja.

Di tangan Virgo, Pertalite itu berubah jadi nafkah keluarga, biaya pendidikan anak, sekaligus modal usaha yang terus berputar. Bagi orang lain, jadi jalan keluar pas butuh pasokan energi di saat yang tak terduga.

Di sinilah dampak nyata dan luasnya terlihat dengan sangat jelas.

Energi yang berasal dari jaringan panjang industri migas itu manfaatnya tak berhenti begitu saja saat keluar dari mulut pompa. Ia terus mengalir dan menggerakkan kehidupan banyak orang. Dari tangki Thunder Virgo, berubah jadi penghasilan keluarga, biaya sekolah, pendapatan warung, sampai menjamin perjalanan orang lain tetap lancar.

Manfaatnya menyebar ke segala arah, dari membuka peluang usaha, menopang kegiatan ekonomi warga, serta menjaga roda kehidupan tetap terus berputar.

Di kesempatan obrolan santai itu pula Virgo berbagi kabar indah yang tak pernah ia sangka bakal terjadi. Di usianya yang ke‑54 tahun, ia akan berangkat menunaikan ibadah umrah tepat tanggal 1 Juli 2026 nanti atas bantuan seseorang. Sampai detik ini ia sendiri belum tahu alasan pasti kenapa justru dirinya yang terpilih.

“Saya pun tak tahu kenapa saya yang dipilih. Yang jelas Alhamdulillah, saya cuma bisa bersyukur dan berterima kasih,” ujarnya tenang sambil tersenyum tulus.

Nyatanya, di balik kesibukan melayani pembeli setiap hari, Virgo punya kebiasaan istimewa yang jarang diketahui orang lain. Setiap kali ada orang datang beli “bensin”, ia tak pernah lupa mendoakan dengan tulus dan bersholawat saat menuangkan Pertalite ke tangki motor pelanggan.

Dalam doanya, ia memohonkan keselamatan di sepanjang perjalanan, rezeki yang makin lancar, umur panjang penuh berkah, serta kehidupan yang senantiasa dihiasi kebaikan. Di sela‑sela waktu jaga warung, ia pun rutin melantunkan sholawat dan sholat di Masjid terdekat ketika azan memanggil.

Buat Virgo, berdagang itu bukan sekadar cari untung dari jumlah botol yang laku terjual. Ada kepuasan batin tersendiri bila bisa berikan doa dan harapan baik pada siapa saja yang sempat singgah.

Mungkin itulah sebabnya warung kecil di sudut gang ini rasanya jauh lebih berharga dibanding sekadar tempat beli bahan bakar.

Di sini, energi tak cuma bikin kendaraan melaju kembali. Ia membuat usaha kecil tetap bertahan, anak‑anak bisa menempuh pendidikan, perjalanan orang jadi lebih tenang, jadi tempat berkumpul, sekaligus jembatan doa‑doa baik yang terus berulang terucap.

Di sinilah makna paling dalam dari dampak berganda energi yakni menggerakkan seluruh kehidupan.