Scroll untuk baca artikel
PalembangPemkot

Sumsel Siaga, El Nino Picu Kemarau Lebih Panjang, Puncaknya Diprediksi Sangat Kering

×

Sumsel Siaga, El Nino Picu Kemarau Lebih Panjang, Puncaknya Diprediksi Sangat Kering

Sebarkan artikel ini

Palembang, UpdateKini – Masyarakat Sumatera Selatan diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi siklus cuaca tahun ini. Musim kemarau diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan, Kebun, dan Lahan (Karhutbunla) Sumsel yang digelar di Auditorium Pemprov Sumsel, Jumat (24/4/2026).

Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih awal, tetapi juga berpotensi membawa dampak yang lebih signifikan.

“Mulai Mei kita sudah memasuki musim kemarau. Puncaknya diprediksi sangat kering dengan curah hujan berada di bawah normal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua tahun ini. Fenomena ini menyebabkan massa uap air atau pembentukan hujan lebih banyak bergerak ke arah Samudera Hindia dan Afrika, sehingga wilayah Indonesia berpotensi mengalami kondisi yang lebih kering.

Menurutnya, April masih merupakan puncak musim hujan sehingga curah hujan dalam beberapa waktu terakhir masih tergolong tinggi.

“Namun memasuki Mei hingga Juni kita mulai masuk musim kemarau dan suhu udara akan meningkat,” jelasnya.

Wandayantolis menambahkan, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung sangat kering, bahkan hingga September curah hujan masih berada dalam kategori rendah. Hujan diperkirakan mulai kembali turun pada akhir Oktober.

“Karena itu kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru, menegaskan bahwa informasi dari BMKG bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan menjadi dasar dalam mengambil langkah pencegahan sejak dini.

“Karhutla bukan persoalan biasa karena berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Kita pernah merasakan ISPU berada di atas ambang batas. Tahun ini kita harus satu persepsi agar langkah pencegahan lebih efektif,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Satgas Karhutla dan unsur Forkopimda kini memfokuskan upaya pada pemetaan kembali wilayah yang berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Deru menjelaskan, dengan perkiraan musim kemarau yang cukup kering, sejumlah langkah antisipasi mulai dipersiapkan. Di antaranya penyediaan informasi kualitas udara atau ISPU serta peningkatan kesiapsiagaan personel di lapangan menjelang bulan Juni.

Menurutnya, strategi penanganan kebakaran memang dapat berbeda setiap tahun, namun titik rawan biasanya tidak jauh berubah. Karena itu, langkah pencegahan harus diperkuat sejak dini sebelum kebakaran meluas.

Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim. Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dalam kondisi apa pun.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mulai terasa sejak bulan Mei.