Scroll untuk baca artikel
Opini

Kesenjangan Antara Teori dan Kenyataan di Lapangan

×

Kesenjangan Antara Teori dan Kenyataan di Lapangan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dian Maulana
Staff Local Initiative and OSH Network Indonesia (Lion Indonesia)

 

Masalah utama yang menjadi pokok bahasan di sini adalah pandangan keliru yang masih banyak dianut orang, yaitu keyakinan bahwa kepintaran, pendidikan tinggi, penguasaan teori, serta kelengkapan data adalah jaminan pasti untuk berhasil.

Banyak orang berpikir, jika sudah belajar sampai mendalam, sudah pegang semua fakta dan angka, maka tugas apa pun pasti bisa diselesaikan dengan mudah dan berjalan sesuai rencana.

Anggapan inilah yang sebenarnya menjadi awal kesalahan besar. Mereka sering lupa atau belum sadar sepenuhnya bahwa ada perbedaan yang sangat jauh antara apa yang tertulis dalam teori dengan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Seperti dikemukakan Robbins & Coulter dalam bukunya Manajemen, “Teori manajemen dibangun atas asumsi kondisi yang teratur, stabil, dan ideal, sementara kenyataan organisasi dan perilaku manusia senantiasa berubah, dinamis, serta penuh ketidakpastian yang sulit diprediksi sepenuhnya.”

Data itu sifatnya diam dan tetap, sedangkan kenyataan dan manusia yang ada di dalamnya itu selalu berubah, bergerak, dan penuh hal yang tidak terduga.

Memang benar, teori dan data disusun secara rapi, terukur, dan sistematis. Di dalam buku atau catatan, semuanya terlihat jelas, teratur, dan seolah-olah semua kemungkinan sudah terjawab.

Namun perlu dipahami, teori itu dibangun berdasarkan kondisi yang ideal. Artinya, pembahasannya mengandaikan bahwa segala sesuatu berjalan mulus, tidak ada gangguan, dan semua pihak bergerak sesuai aturan yang sama. Di situ letak kekurangannya, karena kenyataan hidup tidak sesederhana itu.

Menurut Schermerhorn dalam Dasar-Dasar Manajemen, “Data hanya merupakan gambaran keadaan pada satu waktu tertentu, bersifat statis dan terbatas; ia tidak mampu merekam perasaan, ketakutan, atau pertimbangan hidup yang menjadi dasar tindakan manusia di lapangan.”

Ketika kita turun ke lapangan, kita tidak sedang berhadapan dengan angka mati, rumus, atau benda diam yang tinggal kita atur. Kita berhadapan langsung dengan manusia, dan manusia adalah makhluk yang paling sulit diprediksi.

Ia punya perasaan, punya ketakutan, punya kebutuhan hidup, dan punya pemikiran yang bisa berubah kapan saja. Suatu saat ia setuju, keesokan harinya bisa saja ragu karena ada tekanan baru atau masalah lain yang mendesak.

Hal-hal seperti suasana hati, rasa aman, atau pengaruh lingkungan itu tidak ada di dalam data mana pun, dan tidak pernah dibahas di buku teori.

Sejalan dengan pendapat Kartasasmita dalam Pembangunan untuk Rakyat, “Aturan dan data memang penting sebagai panduan, namun manusia bukan sekadar angka atau objek yang bergerak pasrah. Keberhasilan kerja sangat bergantung pada kemampuan memahami hati, pikiran, dan keadaan nyata orang-orang yang kita layani.”

Akibatnya, data yang kita kumpulkan dengan susah payah minggu lalu, bisa jadi hari ini nilainya sudah berkurang atau bahkan tidak relevan lagi. Rencana kerja yang sudah disusun sedemikian rupa, bisa berantakan hanya karena satu perubahan sikap orang yang terlibat.

Di sinilah sering terjadi kegagalan pada orang-orang yang pintar secara akademis. Mereka bingung, bertanya-tanya mengapa persiapan mereka yang lengkap tidak membuahkan hasil.

Padahal penyebabnya sederhana: mereka berharap dunia nyata akan berjalan persis seperti apa yang ada di kepala dan tulisan mereka, padahal dunia nyata bergerak dengan aturannya sendiri yang jauh lebih dinamis.

Sebagai penutup, dapat kita tarik satu pemahaman penting: pengetahuan dan data itu tetap wajib dimiliki sebagai dasar dan pegangan, karena kita tidak boleh bekerja tanpa arah dan informasi yang jelas.

Namun, bekal itu saja belum cukup. Keahlian yang sesungguhnya baru terlihat ketika seseorang sadar bahwa ilmunya harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Kemampuan membaca suasana, memahami perasaan orang lain, dan siap mengubah langkah ketika situasi berubah, itulah yang menjadi pembeda utama.

Mengerti bahwa data itu diam, tapi kenyataan itu terus bergerak, adalah kunci utama agar kita tidak kaku dan bisa benar-benar bekerja dengan baik di tengah masyarakat.