Yogyakarta, UpdateKini – Luka akibat pola pengasuhan kasar saat masa kanak-kanak ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang mengalaminya. Trauma tersebut berpotensi memengaruhi cara seseorang mengasuh anak ketika dewasa. Namun, riset terbaru Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan adanya faktor yang dapat membantu memutus siklus trauma antargenerasi tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua yang pernah mengalami pengalaman traumatis seperti dipukul atau dikunci selama berhari-hari tidak otomatis akan menjadi orang tua yang kasar. Kemampuan untuk merefleksikan pengalaman traumatis justru berperan penting dalam menentukan bagaimana seseorang merespons emosi anak.
Melansir laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (11/8/2026), temuan tersebut berasal dari penelitian mahasiswa S3 Fakultas Psikologi UGM, Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Penelitian itu dituangkan dalam disertasi berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan.”
Ujian mempertahankan disertasi tersebut berlangsung di Fakultas Psikologi UGM pada Jumat (8/8). Penelitian tersebut dibimbing oleh promotor Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, dan ko-promotor Dr. Nita Handayani, S.Si., M.Si., dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Trauma Tidak Otomatis Membuat Orang Tua Kasar
Dalam penelitian tersebut, Fitri menemukan bahwa pengalaman trauma masa kanak-kanak tidak secara langsung menentukan kompetensi seseorang dalam mengasuh anak.
Faktor yang menjadi pembeda adalah reflective functioning spesifik trauma, yakni kemampuan seseorang untuk memahami, memproses dan merefleksikan pengalaman traumatis yang pernah dialaminya.
Orang tua dengan kemampuan refleksi terhadap trauma yang rendah cenderung lebih waspada terhadap ekspresi emosi anak. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan melemahnya kemampuan dalam meregulasi emosi.
Sebaliknya, orang tua yang memiliki fungsi refleksi trauma lebih tinggi menunjukkan fleksibilitas neural yang lebih baik ketika merespons rangsangan dari anak.
“Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang itu tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” ungkap Fitri.
Dulu Dipukul, Tidak Harus Mengulanginya
Temuan ini memberikan gambaran bahwa pengalaman kekerasan pada masa kecil memang dapat menjadi bagian dari pola pengasuhan yang terbawa hingga dewasa. Namun, seseorang tetap memiliki peluang untuk menghentikan pola tersebut.
Orang tua yang mampu memahami dan merefleksikan pengalaman traumatisnya dapat menyadari bahwa perlakuan yang mereka terima ketika kecil tidak harus diwariskan kepada anak.
Sebaliknya, ketika pengalaman tersebut tidak diproses dengan baik, seseorang dapat menjadi lebih rentan mengulang pola pengasuhan yang pernah dialaminya.
Fitri menjelaskan bahwa orang tua yang pernah mengalami trauma seperti dipukul atau dikunci berhari-hari dapat memperlakukan anaknya dengan cara serupa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Namun, orang tua yang mampu melakukan refleksi terhadap pengalaman tersebut memiliki peluang lebih besar untuk memutus pola pengasuhan yang sama.
Otak Ikut Diamati
Penelitian UGM tersebut tidak hanya melihat perilaku pengasuhan. Fitri juga melakukan pengamatan terhadap respons neural ketika orang tua memproses ekspresi emosi anak.
Ada tiga tahapan utama yang dilakukan dalam penelitian. Pertama, adaptasi dan validasi psikometri Failure to Mentalize Trauma Questionnaire (FMTQ).
Kedua, pengembangan dan validasi ekspresi wajah anak Indonesia yang dibuat menggunakan AI, khususnya untuk anak berusia 2–8 tahun.
Ketiga, dilakukan eksperimen elektrofisiologis dengan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG menggunakan matriks koherensi dan WPLI.
FMTQ digunakan untuk mengukur sejauh mana seseorang mampu merefleksikan atau memproses pengalaman traumatis yang pernah dialaminya.
Ada Peluang Memutus Siklus Trauma
Menariknya, ketika hubungan antara trauma masa kanak-kanak dan kompetensi pengasuhan dianalisis secara langsung, hasilnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Namun, ketika fungsi refleksi terhadap trauma dimasukkan sebagai variabel, hubungan tersebut menjadi signifikan.
Temuan ini menunjukkan bahwa trauma masa kecil bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seseorang menjadi orang tua.
Kemampuan seseorang dalam memahami pengalaman traumatisnya justru dapat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah pola pengasuhan kasar akan terus berulang atau dapat dihentikan.
Dengan kata lain, seseorang yang pernah mengalami kekerasan ketika kecil tidak harus menjadi pelaku kekerasan ketika memiliki anak.
Kemampuan untuk berefleksi terhadap luka masa lalu dapat menjadi salah satu jalan untuk mengubah pola tersebut.
Riset UGM ini memperlihatkan bahwa luka masa kecil memang dapat membekas, tetapi tidak berarti harus diwariskan. Ada ruang untuk memahami, merefleksikan, dan memutus siklusnya sebelum kembali melukai generasi berikutnya.
















