Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Nilai Rupiah Melemah: Tanggung Jawab Bersama Menjaga Kesejahteraan Rakyat

×

Ketika Nilai Rupiah Melemah: Tanggung Jawab Bersama Menjaga Kesejahteraan Rakyat

Sebarkan artikel ini

 

 Oleh: Fadhilah Amirullah, S.E
Ketua Umum Inisiator Perjuangan Ide Rakyat

 

Menurut pandangan saya, perekonomian nasional saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mencapai kisaran Rp18.100 terhadap Dolar Amerika Serikat, bukan sekadar angka statistik dalam laporan keuangan. Hal ini merupakan kenyataan yang dampaknya dirasakan hingga ke dalam rumah tangga. Ketika nilai mata uang domestik melemah, beban yang dipikul masyarakat pun semakin nyata: harga kebutuhan pokok cenderung meningkat, biaya hidup menjadi lebih berat, dan daya beli masyarakat perlahan namun pasti terus menurun.

 

Secara jujur, saya merasa agak sulit sepenuhnya sependapat apabila masih dikemukakan pendapat bahwa “dasar perekonomian masih sangat kokoh” atau “laju inflasi masih terkendali”. Berdasarkan apa yang saya amati dan dengar langsung dari lingkungan masyarakat, kenyataan yang terjadi di lapangan agak berbeda dengan apa yang tertulis di atas kertas. Bagi kepala keluarga yang berupaya menafkahi anggota keluarganya, maupun bagi ibu rumah tangga yang cermat mengatur pengeluaran, kesulitan yang dihadapi terasa jauh lebih nyata. Menurut pendapat saya, hal ini menjadi peringatan yang jelas: permasalahan ini menuntut penanganan yang tepat sasaran, menyentuh akar persoalan, dan bukan sekadar penjelasan yang bersifat umum.

 

Dampak Nyata bagi Dunia Usaha dan Kesempatan Kerja

Saya mengamati bahwa pelemahan nilai tukar ini juga turut menguji ketahanan dunia usaha di dalam negeri. Sebagian besar sektor industri kita masih sangat bergantung pada bahan baku atau penunjang produksi yang harus didatangkan dari luar negeri. Akibatnya, begitu nilai tukar bergerak kurang menguntungkan, biaya produksi pun langsung meningkat tajam. Di sinilah terlihat betapa mendesaknya upaya membangun kemandirian ekonomi nasional, agar kita tidak terus‑menerus bergantung pada pasokan dari luar. Pilihan yang dihadapi para pelaku usaha pun tidak mudah: menyesuaikan harga jual atau melakukan efisiensi agar kegiatan usaha tetap dapat berjalan.

 

Akibat yang timbul pun terasa langsung di tengah masyarakat:

– Kesempatan bekerja semakin terbatas, bahkan sejumlah perusahaan terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja demi menjaga keberlangsungan usahanya.

– Kaum muda yang baru siap memasuki dunia kerja, menurut pengamatan saya, termasuk yang paling merasakan dampaknya. Peluang pekerjaan semakin sempit, padahal tenaga, gagasan, dan semangat mereka merupakan modal paling berharga untuk memajukan daerah maupun bangsa.

– Pendapatan yang cenderung tetap, atau bahkan hilang akibat berkurangnya kesempatan bekerja, harus dihadapkan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurut pandangan saya, hal ini bukan sekadar penurunan kemampuan membeli, melainkan tekanan nyata terhadap taraf hidup sebagian besar rakyat.

Saya juga sependapat bahwa angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% pada awal tahun ini patut disyukuri. Namun menurut pendapat saya, angka tersebut baru memiliki makna apabila manfaatnya benar‑benar dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya berjalan seiring dengan kestabilan harga dan terjaganya kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya.

 

Gagasan Langkah‑Langkah yang Perlu Dipertimbangkan

Menghadapi situasi yang menuntut kehati‑hatian ini, saya berharap kebijakan yang diambil semakin terarah dan lebih mengutamakan perlindungan kepada masyarakat luas. Upaya menstabilkan nilai tukar melalui pengelolaan cadangan devisa sudah dilakukan, namun menurut pandangan saya akan jauh lebih efektif apabila dibarengi dengan langkah‑langkah yang memperkuat fondasi ekonomi dalam jangka panjang.

 

Berikut sejumlah gagasan yang menurut pendapat saya layak dipertimbangkan bersama:

– Mengutamakan kebutuhan pokok di atas pembangunan yang belum mendesak: Sudah waktunya kita meninjau kembali cara penggunaan anggaran negara. Pembangunan sarana atau kegiatan yang belum mendesak sebaiknya ditunda, dan dana yang tersedia dialihkan untuk memperkuat perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling berat bebannya, memberikan dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, serta membuka lebih banyak kesempatan kerja di daerah.

– Mengoptimalkan manfaat hasil produksi nasional: Hasil usaha yang mendatangkan devisa harus lebih diarahkan guna memperkuat pasokan valuta asing di pasar dalam negeri. Kerja sama yang lebih erat antara pemerintah dan pelaku usaha sangat diperlukan agar manfaatnya benar‑benar terasa menopang nilai rupiah sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat

– Membangun kemandirian pangan dan ekonomi daerah: Ini merupakan saat yang paling tepat untuk lebih mengembangkan segala potensi yang dimiliki di setiap wilayah. Pemerintah daerah dan masyarakat sebaiknya bergandengan tangan memajukan sektor pertanian, perkebunan, serta kerajinan lokal. Apabila kebutuhan pokok semakin banyak dipenuhi dari hasil usaha sendiri, ketergantungan terhadap pasokan luar pun dapat dikurangi.

 

Penutup

Menurut pandangan saya, keberhasilan kebijakan ekonomi tidak dinilai dari seberapa megah bangunan yang didirikan atau seberapa tinggi angka yang tercatat dalam laporan. Ukuran yang paling nyata dan berharga adalah ketika para ibu merasa tenang memenuhi kebutuhan keluarganya, dan para pemuda merasa yakin memperoleh kesempatan berkarya serta membangun masa depan.

 

Kondisi saat ini menjadi seruan bagi kita semua, terutama para pemangku kebijakan, agar semakin peka dan bertindak tegas demi menjaga kesejahteraan seluruh anak bangsa. Memelihara kestabilan nilai rupiah dan kemampuan ekonomi rakyat bukan sekadar urusan keuangan, melainkan wujud tanggung jawab bersama demi menjaga keharmonisan dan kelangsungan hidup bangsa. Semoga setiap langkah ke depan semakin membawa kita menuju perekonomian yang kokoh, berkeadilan, dan benar‑benar menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.