Yogyakarta, UpdateKini – Perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menyebut faktor hormonal hingga stres menjadi sejumlah pemicu yang perlu diwaspadai.
Mengutip situs resmi Universitas Gadjah Mada, Selasa (21/7/2026), Nyoman menjelaskan penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kekeliruan dalam mengenali sel tubuh sendiri sebagai benda asing. Akibatnya, sistem imun justru menyerang organ tubuh seperti kulit, ginjal, paru-paru, hati, maupun organ lainnya.
“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” ujar Nyoman.
Menurutnya, perempuan usia reproduksi menjadi kelompok yang lebih rentan karena pengaruh hormon estrogen terhadap sistem kekebalan tubuh. Perubahan maupun ketidakseimbangan hormon dapat menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit autoimun.
Ia mengatakan, sekitar 80 persen penderita autoimun merupakan perempuan, sementara sekitar 20 persen lainnya laki-laki. Meski demikian, autoimun juga dapat terjadi pada laki-laki, seperti penyakit ankylosing spondylitis.
Nyoman menjelaskan, stres menjadi salah satu faktor dominan yang dapat memicu maupun memperburuk kondisi autoimun. Tekanan pekerjaan hingga beban akademik pada mahasiswa dapat menjadi pemicu munculnya penyakit tersebut.
“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ungkapnya.
Ia mengingatkan pasien autoimun perlu mengelola stres dengan baik, menjaga waktu istirahat, dan tidak memaksakan diri hingga mengalami kelelahan. Selain itu, paparan sinar matahari berlebihan juga perlu dihindari, terutama bagi pasien dengan kondisi tertentu.
“Jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” pesannya.
Nyoman menyebut penyakit autoimun terbagi menjadi dua kelompok, yakni autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik. Autoimun organ spesifik menyerang satu organ tertentu, seperti penyakit Hashimoto yang menyerang kelenjar tiroid atau diabetes melitus tipe 1 yang berkaitan dengan gangguan pada pankreas.
Sementara itu, autoimun sistemik dapat menyerang banyak organ sekaligus. Salah satu contohnya adalah lupus yang dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, dan organ lainnya.
Dalam penanganannya, Nyoman menyampaikan tantangan terbesar adalah pemahaman pasien terhadap penyakit yang diderita. Sebagian pasien berhenti berobat karena merasa sudah sembuh, sedangkan sebagian lainnya mengalami kecemasan berlebihan setelah mengetahui dirinya terkena autoimun.
Selain pengobatan menggunakan obat imunosupresan yang berfungsi menekan sistem imun, Nyoman juga mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Menurutnya, terapi ideal di masa depan bukan hanya menekan sistem imun, tetapi mengembalikan fungsi sistem imun agar mampu membedakan sel tubuh sendiri dan benda asing.
“Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang memiliki faktor genetik autoimun agar tetap menerapkan pola hidup sehat, menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, serta menjaga lingkungan tetap bersih.
“Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan,” pungkasnya.

















